Selasa, 10 Maret 2009

APA ITU MASTERY LEARNING ?

Mastery Learning
Istilah belajar tuntas diangkat dari pengertian tentang apa yang disebut dengan situasi belajar. Dalam situasi belajar terdapat aneka ragam kecepatan individu sebagai peserta belajar ( baik murid maupun mahasiswa ). Ada murid yang cepat menguasai pelajaran sehingga ia dapat berpartisipasi penuh dalam proses interaksi kelas. Di samping itu ada pula murid - murid yang lamban sehingga tingkat partisipasinya rendah. Meraja yang terakhir ini akan mengalami kesukaran dalam mengikuti kecepatan yang digunakan guru. Mereka akan mengalami kesulitan apalagi bantuan yang diberikan terhadap mereka kurang sekali.
Belajar dengan tuntas didasari oleh kondisi objektif bahwa setiap siswa dapat mencapai belajar dengan tuntas, namun biasanya membutuhkan waktu yang berbeda - beda. Dalam realitasnya ada siswa yang mampu menguasai 90 - 100 % bahan ajar yang disampaikan guru,namun sebahagianya hanya mampu menguasai 50 - 80 % bahkan ada yang baru menguasai lebih rendah dari rata - rata pringkat prestasi sekolah. Siswa yang mengalami percepatan yang sangat lambat, membutuhkanperhatian, pengulangan dan ekstra learning dari siguru.
Sebab kegagalan disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya : keadaan murid, lingkungan keluarga dan sosial. Dalam hal ini belajar tuntas itu berdasarkan asumsi bahwa sebahagian murid itu dapat mencapai suatu kemampuan belajar tingkat tinggi apabila belajar yang disajikan dalam pendekatan secara insentif dan dengan cara sistematis, apabila murid dapat dibantu oleh tidak adanya batasan ( kapan, dimana ) terdapat kesulitan belajar dan pemberian waktu yang cukup untuk menguasai suatu pokok pembahasan belajar, maka murid trsebut akan berupaya dan berhasil mencapai target kelulusan yang maksimal ( tinggi ).
Bentuk pengajaran dalam model belajar tuntas ini bisa dilaksanakan secara individual, tetapi dapat juga secara kelompok. Pengajaran individual dapat dilakukan dalam kelas, dalam arti perlakuan guru terhadap siswa tetap bersifat individual sesuai dengan kemajuan dan kemampuan yang dimiliki oleh masing - masing murit tersebut.
Tentu saja strategi individual ini memerlukan adanya kelengkapan perangkat penunjang seperti modul, lab,ataupun teaching machine.
Sistem belajar ini memiliki fase yaitu :
a. Fase Orientasi
Pada fase orientasi inilah disusun kerangka dasar pelajaran, perumusan harapan apa yang igin dicapai, penjelasan dan perincian tugas - tugas belajar murid serta apa yang menjadi tanggung jawab murid.
b. Fase Penyajian atau PErsentasi
Guru menjelaskan konsep - konsep baru dan keterampilan melalui demontrasi dan dibantu dengan berbagai usaha visual.
c. Fase Penstrukturan Latihan Perakteknya.
Guru memperlihatkan kepada murid contoh memperaktekan sesuatu antara lain denganbantuan visual, seperti penggunaan transparan OHP, LCD. Latihan seperti ini bersifat kelompok.
d. Fase Peraktek Tebimbing
Murid - murid diberikan kesempatan memperaktekan dengan caranya sendiri sementara guru tetap berada diantara mereka . Guru mempunyai kesempatan menilai penampilan setiap siswa. guru berpungsi memonitor keseluruhan dengan menggunakan teknik memuji, menganjurkan dn meninggalkan.
e. Fase Praktek Bebas.
Fae ini merupakan fase terakhir dari semua fase, hal ini dilakukan pada murid apabila murid telah menyampaikan 85 - 95 % penguasaan akurasi kemampuan dalam fase keempat, praktek yang dilakukan murid dalam fase ini adalah praktek yang dilakukan mereka menurut cara mereka sendiri tanpa bantuan guru, dengan memperlambat umpan balik.

Sumber : STRATEGI BELAJAR MENGAJAR, Oleh Prof.PUPUH Fathurrohman 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar