Diberdayakan oleh Blogger.

DASAR BIOLOGIS PENGETAHUAN DAN TINGKAH LAKU

Book Report: “Psychology of Learning for Instruction”
       
Sub bahasan: Bilogical Bases of Learning and Behavior
Karangan    : Marcy P. Driscoll

DASAR BIOLOGIS PENGETAHUAN DAN TINGKAH LAKU

Sebab Utama: Evolusi dan Tingkah Laku   
Konsep seleksi alam Charles Darwin dalam evolusi sangat diagungkan dalam sosiobiologi. Idenya tentang evolusi- yang menggambarkan bentuk kehidupan adalah berdasarkan keturunan yang cukup panjang- ia mempublikasikan bukunyu yang cukup terkenal pada tahun 1859 dengan judul Origin of Species. Darwin memberikan kontribusi teori tentang bagaimana terjadinya proses evolusi. Hal tersebut terjadi karena seleksi alam. Organisme yang beradaptasi secara sempurna dapay bertahan hidup dengan lingkungannya, sebaliknya organisme yang tidak dapat beradaptasi secara efektif akan punah.
Sebagai contoh, burung kutilang di kepulauan Galapagos, menunjukkan tingkah laku yang disesuaikan secara khusus berdasarkan lingkungan mereka.
Pelajaran yang diambil dari contoh ini adalah bahwa evolusi merupakan asal penentu tingkah laku. Hal ini mempengaruhi organisme untuk mempelajari hal-hal tertentu.

Kondisi dan Evolusi
Skinner, memiliki pandangan yang berbeda. Dia percaya dengan yakin bahwa proses pengajaran pada metode yang sama untuk semua species. Apapun  secara biologi dapat dikenali (hewan-hewan dapat mendengar suara hanya pada frekuensi tertentu dan melihat hanya pada cahaya tertentu.
Skinner berpendapat, dan percaya hukum belajar secara umum, yang lain belum begitu meyakinkan. Para siswa dalam pembelajaran di kelas, misalnya, memperlihatkan berbagai pertanyaan setiap semester tentang prinsip syarat sebelum mendiskusikan faktor biologi dalam pembelajaran, mereka bimbang mengapa merpati belajar lebih cepat untuk membuat takaran lingkaran daripada tikus belajar untuk menekan pengungkit ( percobaan box Skinner).
    Fakta menujukkan antara classical dan operant conditioning adalah pokok persoalan pada pengaruh biologi. Dengan tanggapan  terhadap bentuk perubahan, sebagai hasil belajar berupa indikasi bahwa hewan disiapkan untuk mengasosiasi beberapa kondisi stimulus dengan beberapa kondisi unstimulus.
    Garcia dan Koeling (1996) menggambarkan dua kondisi stimulus (hasrat/keinginan dan suara) dengan dua kondisi unstimulus (suatu obat yang menimbulkan penyakit dan suatu goncangan atau hentakan yang menimbulkan sakit). Dalam pandangan classical conditioning, peneliti menjadikan subjek percobaan (tikus dalam kotak) untuk menghindari beberapa kondisi stimulus yang diasosiasikan dengan konsekuensi berupa penyakit atau rasa sakit. Percobaan ini digambarkan pada gambar di bawah ini.
Dengan kata lain, rasa sakit berasal dari “luar sana”, dan karenanya hewan mencari predictor rasa sakit itu, yang dalam kasus ini cahaya dan suara berisik yang diasosiasikan dengan minum. Namun rasa mual dialami secara internal. Karenanya, oleh hewan rasa mual diasosiasikan dengan sakarin (internal) bukan dengan air yang bercaya terang dan berisik (eksternal). Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwwa tikus secara bilogi lebih siap untuk membentuk asosiasi antara air terang dan berisik dengan rasa sakit tetapi tidak siap untuk membentuk asosiasi antara air terang dan berisik dengan rasa mual.
Seperti pada classical conditioning, tingkah laku operant juga dipengaruhi oleh faktor biologi. Breland dan Breland

Evolusi dan Kognisi
Organisme sederhana, seperti scorpionflies dan bluegill sunfish harus memproses informasi dari lingkungan mereka dan membuat keputusan atau tindakan sebagai dasarnya. Jika interaksi tersebut dengan beberapa aspek lingkungan mereka beradaptasi (Raufad dan Anderson, 1989).
Evolusi belajar berpengaruh pada kognisi, Cosmides dan Tobby (1989) mencirikan struktur kognitif sebagai “algorithas Darwinian”. Ini adalah bawaan yang dikhususkan pada mekanisme pembelajaran dengan mengadaptasi proses kognitif pada kondisi lingkungan.
Hal yang tidak berbeda pada mekanisme kognitif daripada tingkah laku yang berbeda, menunjukkan dua hal penting:
1.    tidak semua tingkah laku diasumsikan beradaptasi di bawah kondisi lingkungan.
2.    banyak, kerja- mekanisme mental secara khusus diasumsikan dalam mengembangkannya pada pembelajaran daripada mekanisme secara umum.
Evolusi biologi juga telah mempengaruhi teori perkembangan kognitif yang dapat dilihat  melalui teori Piaget. Piaget yakin bahwa transisi dari satu tahap ke tahap berikutnya dalam perkembangan sebagian besar dihasilkan melalui berpikir dan nalar, dengan cara ini, ia meyakini bahwa perkembangan kognitif sejalan dengan perubahan evolusi. Konsep evolusi, dengan demikian mengantarkan Piaget sebagai tokoh perkembangan kognitif.
Teori perkembangan kognitif Piaget juga telah menunjukkan manfaat dalam memahami evolusi intelegensi manusia. Misalnya, Tayler dan Parker (1985) menggunakan tahapan perkembangan Piaget sebagai dasar untuk menganalisis operasi intelektual yang diperlukan untuk menghasilkan alat-alat yang digambarkan secara arkeologi. Pendapatnya juga didasarkan pada fakta bahwa tahapan Piaget tampak secara universal. Menurut Tayler-Parker, Homo Habilis dan Homo Erectus harus sudah dicirikan sebagai manusia modern pada tahap operasional konkret.

Pengaruh Sosio-Biologi terhadap Pengajaran dan Pembelajaran
Satu hal yang tidak diragukan lagi adalah bahwa gen kita, warisan evolusi tertentu yang berkembang melalui proses belajar. Dengan kata lain, secara nyata pengajaran disebabkan oleh faktor lingkungan. Berikut ini akan terlihat implikasi dari sosio-biologi terhadap pengajaran dan pembelajaran

Prinsip     Implikasi terhadap pembelajaran
1. manusia mungkin dipengaruhi oleh keinginan tertentu    Program didesain untuk mengajar yang berusaha untuk memberdayakan keinginan atau potensi mereka dengan cara yang paling efektif.
2. tingkah laku bukan suatu kecenderunga untuk mengajar    Waktu yang longgar dan prakteknya harus dibangun dalam program mengajar terhadap tingkah laku. Sebagai contoh, computer adalah fakta seni dari budaya yang ada,sehingga manusia perlu latihan agar terampil dalam menggunakannya.
3. adaptasi tingkah laku sebelumya, yang tidak bermanfaat pada saat sekarang, mungkin sulit untuk diterapkan    Waktu dan latihan adalah varibel inti untuk pembelajaran yang efektif ketika tingkah laku kurang hati-hati ditindaklanjuti.sebagai contoh, siswa dalam pembelajaran kooperatif secara pengalaman sulit untuk bekerja sama, kaena mereka harus bekerja yang dibangun oleh hubungan social yang berbeda.
4. tindakan asosiasi dapat mengurangi populasi yang sulit untuk dibangun    Media pengajaran adalah topic di sini, karena pengajar harus yakin bahwa tindakan ini adalah sesuai dengan yang diinginkan lingkungan saat sekarang ini

Sebab utama: Neurophysiology pada Pembelajaran
    Otak manusia memilki 12 juta syaraf dan 500 sinapsis, semua terjadi bersama secara kompleks dan luar biasa. Bahkan, kebanyakan pada otak bertujuan memahami dan menyimpan informasi. Ini bermakna bahwa psikologi reseptor (system sensori kita terhadap visi, mendengar, mencium, merasa,meraba) dan psikologi efektor ( berbeda system urat syaraf) tidak dianggap relevan untuk belajar.
    Pengetahuan syaraf digunakan bersama dengan analisis kognitif berupa gambaran kesimpulan tentang otak dan pembelajaran. Gambar di bawah ini menggambarkan otak kiri manusia, menunjukkan cuping lapisan luar atau kulit otak, otak belakang dan bagian-bagian otak.
Struktur yang mana dalam otak secara khusus mempengaruhi dalam pembelajaran. Pertama, otak bagian depan menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan perhatian, secara khusus, kemampuan untuk memberikan perhatian. Otak kiri depan juga dikenal sebagai Broca area, yang menunjukkan kemampuan bahasa. Cuping parietal khususnya berhubungan dengan kemampuan mengorganisasikan aspek perhatian. Cuping parietal juga memperlihatkan keterlibatan prosedur memory pada prosedur kerja.

Perhatian dan Otak
Para ahli kognitif mengatakan bahwa pentingnya perhatian dalam pembelajaran. Sebagai informasi yang diproses agar dapat bertahan lama dalam memory, hal ini harus pertama kali diperhatikan. Para pengajar secara selektif menggunakan beberapa stimulasi yang berupaya mencapai tujuan pembelajaran. Akhirnya, keterampilan yang baik, pengajaran dan praktik secara khusus memerlukan perhatian pengajaran, kebebasan mereka untuk menerapkan kapasitas perhatian untuk dihubungkan pada kapasitas yang lebih tinggi.
Ciri-ciri perhatian sebagai suatu bagian, sumber/suatu proses, yang berguna untuk mendiskusikan dan mengevaluasi hasil belajar pada perhatian. Ketiga konsep dilibatkan secara selektif. Perhatian sebagai suatu bagian terjadi ketika pengajaran mempertahankan sikap harapan, tanda-tanda untuk informasi dan tidak memperhatikan gangguan.
Perhatian sebagai suatu sumber menunjukkan pada kemampuan pengajar secara selektif melibatkan perhatian lebih pada suatu hal dari beberapa secara simultan. Akhirnya, perhatian sebagai proses melibatkan penyeleksian informasi untuk dianalisis lebih lanjut dan diinterpretasi.

Pengotrolan Perhatian
Syndrome tidak dapat berkonsentrasi menunjukkan pada kegagalan untuk merespon stimulus ketika stimulus ditampilkan pada bagian lapisan yang berlawanan. Dengan demikian individu gagal untuk memelihara semua petunjuk daripada pengontrolan antara pengalaman mereka dengan kerja.
Hasil studi penggunaan electroencephalograms  untuk melaporkan kegiatan electric dalam otak dan kesimpulan secara umum bahwa antara cuping bagian depan dengan catecholamin otak terlibat dalam pengontrolan perhatian.

Belajar, Memory dan Otak
Dua jenis memory

Dua jenis memory yang berbeda  secara khusu antara aspek kontekstual pada kegiatan belajar dan informasi secara umum atau pengetahuan secara umum. Memory dibedakan pada deklaratif dan procedural. Deklaratif memory menunjukkan pada informasi yang terkait pada fakta atau data. Sedangkan procedural memory menunjukkan pada prosedur dan keterampilan.

Dasar Biologi terhadap Pengajaran Bahasa
Suatu pendekatan neurophysiology pada pengajaran adalah untuk mempelajari kemampuan-kemampuan otak-perubahan individu. Kerusakan alam dan lingkungan pisik, bagaimanapun berkaitan pada kelemahan mengobservasi. Bahasa digunakan dalam tes kasus, karena “untuk mempercayai bahwa adaptasi biologi adalah suatu syarat, hal ini cukup untuk mengetahui bahwa semua anak-anak tidak hanya anjing dan kucing di dalam rumah memperoleh bahasa (Gleitmen, 1986: 119).
Ide tentang bahasa yang merupakan bawaan bukanlah suatu hal yang baru. Leahey dan Harris (1989) mengamati bahwa Descartes menggambarkan peran bahasa sebagai suatu sarana untuk mengekspresikan pikiran. Pada waktu modern, Noam Chomsky (1965, 1972) telah menyampaikan gagasannya bahwa pandangan tentang bahasa melibatkan organ khusus.

Perkembangan Kognitif dan Otak
Mempelajari perkembangan kognitif dari perspektif neurophysichology tidak berbeda dengan perspektif kognitif. Pertanyaan yang menarik adalah : Apakah perkembangan kognitif terjadi secara biologi atau pengaruh lingkungan? Sebenarnya, tingkah laku sedikit dipengaruhi oleh faktor biologi, menyanggah bahwa perkembangan dapat dipahami secara utuh dalam term lingkungan. Tetapi perkembangan kognitif lebih membuka kemungkinan pada fakta biologi dalam perkembangan kognitif. Piaget menerapkan model biologi untuk memahami perkembangan, walaupun idenya tidak pernah meluas untuk menyatakan adanya kegiatan atau proses biologi. Fakta menunjukkan bahwa maturasi pada system otak tertentu mungkin bertanggung jawab pada keterbatasan system kerja memory pada anak-anak.
Untuk mngetahui ciri-ciri ilmu syaraf berkaitan dengan perkembangan, terdapat empat model konsep: fixed circuity, critical priode, plasticy, and modulary (Chall dan Peterson, 1986).

Pengaruh Neurophysiology terhadap Pengajaran dan Pembelajan
Prinsip-prinsip    Pengaruhnya pada Pembelajaran
1. fungsi kognitif dibedakan    Pengajar harus sudah mempersiapkan gaya-gaya mengajar pada proses pembelajaran dengan kemampuan yang berbeda dalam berbagai gaya. Ini mengharuskan pengajar memilki atau mampu menggunakan berbagai model atau gaya mengajar.
2. otak adalah plastic secara relatif dalam alam.    Lingkungan aktif memfasilitasi pembelajaran dalam perkembangan anak. Seperti orang dewasa, walaupun plasticity memperlihatkan penurunan usia, pengajaran dapat fleksibel jika menggunakan strategi pembelajaran yang beragam.
3. bahasa secara bilogi belum pemprogaman    Anak-anak sudah memiliki pengetahuan implicit tentang bahasa, yang seharusnya dibentuk secara eksplisit selama pengajaran bahasa. Instruktur seharusnya menyadari bahwa permasalahan bahasa  dapat bertentangan dengan isi pelajaran.
4. kekacauan pengajaran mungkin didasarkan neurobilogical    tes neurobiological membantu dalam mengenali, memperlakukan, dan mengevaluasi program yang efektif digunakan untuk memperbaiki masalah-masalah belajar.


Pelajaran Bahasa
Dua hal terkait dengan implikasi bahasa terhadap pengajaran yaitu:
Pertama guru yang mengajar di kelas yang multicultural memberitahu bahwa bahasa Inggris bukan ukuran sebuah bahasa atau bahasa lain dari bahasa Inggris. Dengan kata lain, anak-anak yang secara dominant berasal dari etnis kulit hitam atau etnis lain berbicara bahasa Inggris dengan nada yang salah pada gurunya. Ini tentu salah pada makna. Dengan demikian, semua anak-anak berbicara sesuai dengan latar belakang lingkungan yang ada di sekitarnya.
Kedua, perbedaan perkembangan bahasa kelihatannya tercermin pada kesulitan yang bebeda pada berbagai kerja bahasa. Sebagai contoh, “anak-anak mampu berpikir tentang sesuatu atau memanipulasi kata-dan sylabel-tahap representasi bahasa lebih dahulu dalam kehidupan daripada mereka dapat melalui fenomena.


Penutup
Dengan demikian, teori biologi menunjukkan implicasi terhadap pembentukan tingkah laku seseorang. Hal ini dapat terlihat melalui eksperimen pada classical conditioning dan operant conditioning.
Teori evolusi mengatakan bahwa terjadi perubahan perkembangan kerja otak dalam setiap tahapan.hal ini sejalan dengan teori perkembangan kongnitif yang dikemukakan oleh Piaget. Piaget mengatakan bahwa perkembangan kemampuan berpikir anak sesuai dengan tingkat pertumbuhannya secara fisik.
Maka dalam berpikir, terdapat memory yang berfungsi untuk menyimpan informasi yang diterima. Memory ada dua macam, yaitu deklaratif dan procedural. Deklaratif berhubungan dengan informasi berupa fakta atau data, sedangkan procedural berupa prosedur dan ketarmpilan dalam suatu kegiatan.
Dalam proses pembelajaran seorang guru harus mampu menggunakan berbagai teknik mangajar, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien. Namun, guru harus juga memperhatikan perbedaan individu baik kognitif maupun tingkah lakunya.
   

   

Momok dibalik keutamaan Kurikulum 2013

Aturan serta regulasi pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai rencana besar merekayasa penciptaan Sumber Daya Manusia (SDM) generasi penerus bangsa di masa depan. Rencana tersebut semakin meyakinkan khalayak umum bahwa pomeo “ganti menteri ganti kurikulum” mendekati benar adanya. Ditengah banyaknya protes dan riuh-riuh ketidaksetujuan yang muncul dari kalangan praktisi, akademisi dan pemerhati pendidikan, ternyata arus mendesakkan kurikulum belum ada nama 2013 untuk diterapkan sangat kuat. Sungguh ironis memang, jika pendidikan merupakan kunci keberhasilan pembangunan manusia Republik Indonesia seutuhnya harus didesakkan sedemikian rupa tanpa adanya “rembug bareng” yang melibatkan semua komponen pendukung pendidikan dalam men-desaign kurikulum. Jika begitu adanya, upaya membangun sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat internasioal sama saja dengan “menjaring angin”.
Sungguh indah kiranya jika para penentu Aturan serta regulasi kurikulum di republik ini untuk sedikit saja melirik ke belakang, mengamati-mempelajarai-dan melakukan refleksi terhadap perjalanan kurikulum di Republik Indonesia sepanjang masa. Pernyataan founding fathers bangsa tercinta Ir. Soekarno dengan kata JAS MERAH (Jangan sekali-sekali Melupakan Sejarah) patut menjadi pijakan bagaimana pentingnya melihat sejarah pencapaian kurikulum masa lampau untuk melakukan perbaikan pada kurikulum yang akan dilaksanakan sekarang untuk pencapaian masa depan. Setidaknya, langkah ini diperlukan agar hasil akhir dari implementasi kurikulum 2013 nantinya sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Republik Indonesia dan mampu bersaing pada era yang jauh lebih modern di masa depan.
Kemiskinan di Republik Indonesia yang mencapai 60 % dari jumlah 240 juta penduduk bukanlah justifikasi yang tepat dalam menganalisis perlunya perubahan kurikulum. Fenomena sosial yang menjadi tontonan menarik setiap detik layaknya sebuah sinetron yang “menghibur hati” seperti; artis terjerat Narkoba, pemerkosaan remaja, tawuran pelajar, pernikahan dini, dan masih banyak yang lainnya inilah “ancaman dan tantangan” dunia pendidikan. Segitiga emas yang terdiri dari Sekolah- Lingkungan masyarakat-dan Keluarga bermetafosis menjadi lingkaran setan yang sulit sinergis dalam peningkatan mutu pendidikan. Ketika siswi dirumah dibiarkan memakai pakaian super minim dan seksi, masyarakat juga tidak memberikan “teguran/sanksi moral” maka tentu saja tidak in line dengan pendidikan di sekolah. Sementara itu, pembelajaran dikelas yang cenderung konvensional tentu saja kalah dengan hiburan televisi yang menyampaikan pesan bertentangan dengan norma/perAturan serta regulasi sekolah dan masyarakat. Jadi, bukan kurikulum yang gagal dalam menciptakan pendidikan yang luar biasa bagi siswa, tapi kurangnya sistem kontrol dan pengawasan pihak-pihak terkait terhadap setiap pengaruh luar dengan kemasan menarik yang datang.
Ironisnya, segala bentuk permasalahan sosial tersebut diambillah kesimpulan yang kurang tepat bahwa “kambing hitam” dari masalah tersebut adalah penyalahgunaan Tekhnologi Informasi (TI). Sehingga, yang menarik dan menghentak publik bahwa di dalam kurikulum 2013 pelajaran IT dihapuskan.  Bagi penulis, sampai detik ini belum ada alasan yang super sangat rasional terkait penghapusan mata pelajaran IT tersebut. Era globalisasi yang syarat dengan kompetisi disegala bidang kehidupan harus mendapatkan antisipasi super jitu dari bangsa tercinta ini, terlebih lagi bagi ouput pendidikan. Salah satu senjata ampuh antisipasi era tersebut adalah IT dan bahasa inggris. Harus diakui, bahwa IT merupakan media efektif memamerkan dan memasarkan semua karya anak bangsa, media untuk melakukan akses semua ilmu pengetahuan yang terbebas dari ruang dan waktu yang sangat memperkaya khasanah keilmuwan siswa, IT adalah media komunikasi yang memperpendek jarak tempuh dan nilai positif lainnya. Pertanyaannya, kenapa pelajaran IT harus dihapuskan???
Penghapusan mata pelajaran IT adalah mimpi buruk yang menunggu bom waktu untuk meledak di masa yang akan datang. Bagaimana tidak, pada jamannya nanti ketika era globalisasi yang memaksa manusia sangat tergantung IT, bangsa-bangsa lain sumber daya manusianya sudah sangat mampu dan terampil tapi bangsa Republik Indonesia harus rela tetap menjadi obyek pasar/ “tanah jajahan” yang nikmat bagi bangsa lain. Disamping itu, penghapusan mata pelajaran IT akan menimbulkan kesenjangan sosial yang panjang dalam masyarakat. Orang tua yang sangat peduli pendidikan dan mempunyai uang lebih akan memberikan kesempatan anaknya belajar IT diluar jam sekolah, tentu saja hal ini tidak akan dilakukan dengan orang tua yang latar pendidikannya rendah dan kurang beruntung secara ekonomi.
Perkembangan tekhnologi informasi yang begitu pesat di republik tercinta ini seakan tidak seiring sejalan dengan peningkatan kualitas kompetensi pembelajaran IT untuk menyongsong era digital yang sudah semakin menjamur. Sungguh sangat ironis memang jika era globalisasi yang tidak bisa ditolak kehadirannya tanpa dukungan sumber daya manusia yang mampu menjadi operator tangguh. Semuanya harus sirna hanya dengan kesimpulan yang terkesan over generalism bahwa IT membawa dampak buruk bagi masyarakat dengan mengambil contoh-contoh negatif dan mengubur contoh-contoh positif. Perilaku menyimpang dalam pemanfaatan IT sebenarnya sangat mudah bagi negara untuk menerapkan Aturan serta regulasi sistem kontrol terhadap pemblokiran situs-situs yang tidak sehat seperti yang telah dilakukan Kementrian Informasi dan Komunikasi.
Potensi kesenjangan sosial dari lulusan satuan pendidikan juga akan terlihat dari kemampuan bahasa inggris sebagai bahasa internasional yang memungkinkan setiap manusia Republik Indonesia untuk menempuh ilmu diluar negeri. Siswa dengan latar belakang kemampuan ekonomi dan pengetahuan orang tua yang tinggi akan memberikan ilmu tambahan bahasa inggris melalui les privat, namun hal ini tidak terjadi pada siswa dengan latar belakang sebaliknya.
Implementasi kurikulum 2013 juga membawa prahara dan dilema bagi guru/ pendidik kelas di tingkat SD dan guru/ pendidik mata pelajaran ditingkat pendidikan menengah SMP/SMA/SMK. Pengurangan mata pelajaran dan jumlah jam pelajaran merangsang rasa paranoid para guru/ pendidik terhadap nasib sertifikasinya yang menuntut jumlah jam mengajar minimal 24 jam. Selanjutnya, bagaimanakah nasib guru/ pendidik yang mengajajar mata pelajaran yang “terhapus” dari kurikulum 2013???.    
Persoalan lain terkait kurikulum tanpa nama 2013 ini juga terlihat dari distribusi terpusat terkait pengadaan buku-buku penunjang siswa, guru/ pendidik, dan silabus yang menjadi pegangan wajib guru/ pendidik. Pertanyaannya, apakah pendistribusian tersebut tidak akan memunculkan potensi korupsi yang luas dan terkesan “legal” dalam dunia pendidikan?. Jika semua pegangan tersebut bersifat wajib dan dibebankan kepada siswa/guru/ pendidik/satuan pendidikan, bukankah hal tersebut sangat memberatkan lembaga pendidikan?. Apapun yang terjadi nanti, semoga pendidikan bernafaskan kapitalisme tidak terjadi lagi dalam pendidikan di republik ini.
Harus disadari bahwa pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat, setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, mengamanatkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan dilaksanakan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. Sehingga, alangkah lebih indah dan cerdasnya jika kurikulum tanpa nama 2013 dipikirkan secara jitu demi peningkatan kualitas SDM bangsa Republik Indonesia sebelum diimplementasikan.
Kurikulum 2013 yang akan diberlakukan pada tahun ajaran baru 2013/2014 menebar kegelisahan bagi guru/ pendidik yang kritis. Beda halnya dengan guru/ pendidik yang manggut-manggut tidak peduli dengan kebijakan bersikap masa bodoh, yang penting kesekolah siswa bisa atau tidak yang penting gaji jalan dengan dalih tugas kita hanya mengajar bukan menentukan kebijakan. Akhirnya guru/ pendidik dikungkung Kurikulum : Dilema kurikulum 2013
Pak Mentri Pendidikan M Nuh ( dalam acara Mata Najwa: Metro TV ), menganggap bahwa permasalahan pendidikan adalah karena kurikulum sebelumnya masih banyak kekurangan sehingga perlu penyempurnaan. Sehingga untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan menerapkan Kurikulum 2013 hasil rancangan Kemendikbud yang sudah dilakukan uji publik. Padahal menurut Ibu Welyn : materi uji publik yang dilakukan kementrian berubah-ubah dan hanya dalam bentuk power point saja tidak dipublikasikan draf secara menyeluruh.
Pak Yohanes Surya ini lebih terpukul lagi dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 ini dikarenakan mata pelajaran keahliannya di hapuskan dan di integrasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Walaupun sudah dilakukan pengintegrasian materi IPA dengan Bahasa Indonesia tetap saja telah menghilangkan 70% materi IPA sesungguhnya.
Ketika Kurikulum 2013 ini dikatakan oleh Kemendikbud sudah direncanakan pada tahun 2010 yang lalu jadi bukan Kurikulum yang kejar tayang, Ibu Welyn hanya ingin tahu dimana draf perbaikan kurikulum tersebut, walaupun sudah berkunjung di Puskur website resmi mereka tetap tidak ada pencerahan.
Ibu Retno Listyarti dari FSGI berpendapat bahwa Pemerintah terlalu cepat untuk menerapkan kurikulum 2013 yang belum teruji kelayakannya. Dengan dalih akan ada Master Teacher yang akan menularkan kurikulum ini kepada seluruh guru/ pendidik di Indonesia Kemendikbud tetap akan memberlakukan Kurikulum 2013 tahun ajaran baru 2013/2014. Retno Listyarti ( dalam acara Mata Najwa: Metro TV ) menyatakan Pemerintah tidak menganggarkan dana untuk pelatihan guru/ pendidik hal ini berdasarkan informasi yang diperoleh dari DPR. Hanya menyiapkan buku-buku pelajaran yang siap pakai tanpa ada pelatihan materi terlebih dahulu. Ada guru/ pendidik SD sampai dia pensiun tidak pernah mengikuti pelatihan katanya. Sebaik apapun kurikulum itu apabila guru/ pendidik tidak mendapatkan pelatihan maka kualitas pendidikan tidak akan membaik. Guru/ pendidik di China mendapatkan pelatihan minimal 100 jam per tahun untuk mengembangkan pengetahuannya bandingkan dengan Indonesia.

PENDIDIKAN AKHLAK DAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN IBN MISKAWAYH DAN AL-GHAZALIPENDIDIKAN AKHLAK DAN KARAKTER

PENDIDIKAN AKHLAK DAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN IBN MISKAWAYH DAN AL-GHAZALI

1.     Pendahuluan
Ketika membicarakan kualitas kehidupan manusia, terutama kehidupan kolektifnya, akhlak dan karakter merupakan dua hal yang sangat penting; bahkan para ilmuan yang melakukan kajian dalam bidang filsafat antropologi pada setiap zaman memandang akhlak dan karakter sebagai indikator utama kualitas kehidupan manusia baik secara individual maupun secara kolektif.  Akhlak secara sederhana dapat diartikan sebagai standar perilaku dan karakter secara sederhana dapat diartikan sebagai watak atau tabiat yang dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan pandangan hidup seseorang atau kelompok masyarakat. Akhlak sebagai standar prilaku juga dilandasi oleh nilai-nilai yang dianut, dipedomani dan diyakini oleh manusia, baik secara individual maupun secara kolektif. Akhlak dan karakter dibangun di atas landasan nilai dan keyakinan manusia.[1]
Manusia memang adalah makhluk multi dimensi; secara sederhana dalam penampilan lahiriah (struktur fisik), manusia sama dengan hewan; untuk hidup memerlukan nutrisi, dalam bentuk makanan, minuman, dan tempat tinggal. Akan tetapi, kebutuhan hidup manusia tidak terbatas sampai di situ; manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan intelektualnya, pemenuhan kebutuhan moral dan akhlaknya, dan pembentukan karakternya. Membahas kualitas hidup manusia tidak cukup dilakukan dari segi kebutuhan struktur fisiknya saja, tetapi harus juga dilakukan dari segi intelektual, moral dan karakternya; bahkan unsur yang paling membedakan manusia dari segala makhluk ciptaan Tuhan, lainnya adalah intelektual, moral dan karakternya. Itulah sebabnya, para ilmuan pengkaji manusia terdahulu mendefinisikan manusia sebagai “hayawan nathiq”, yaitu hewan yang berfikir dan berbudaya.
Pada era 1970an, para ilmuan Muslim Indonesia, melalui Prof. Mukti Ali, mengembangkan konsep membangun manusia seutuhnya, sebagai kontribusi IAIN (para ilmuan Muslim Indonesia) terhadap kebijakan pembangunan nasional Indonesia, tetapi sayangnya konsep itu tampaknya tidak berjalan sesuai dengan yang dikehendaki karena sarat dengan pengaruh dan intervensi kehidupan politik waktu itu. Pada dasarnya konsep membangun manusia Indonesia seutuhnya adalah membangun manusia dengan segala dimensi dan potensinya, fisiknya, intelektualnya, akhlak dan karakternya, dan juga agamanya. Pembangunan akhlak dan karakter sangat erat kaitannya dengan agama.
Sejak dari awal kemerdekaan, perbincangan tentang akhlak dan karakter ini sudah muncul.  Para pendiri negara ini sudah mulai membicarakannya secara serius. Pidato-pidato Bung Karno tentang character building (pembangunan karakter) bangsa dan pandangan hidup bangsa (world-view) atau istilah yang sering digunakan beliau “weltanschauung” membuktikan hal itu. Para pendiri bangsa ini yakin seyakin-yakinnya bahwa membangun manusia Indonesia tidak cukup dengan membangun dan memenuhi kebutuhan fisik dan materialnya. Pemenuhan kebutuhan fisik dan material manusia tidak cukup untuk membuat manusia hidup manusiawi; bahkan kalau hanya memenuhi kebutuhan fisik dan material itu dapat membuat mereka makin tidak manusiawi, serakah, arogan, asosial, dan amoral.
Makalah ini mencoba mengangkat konsep pendidikan akhlak dan karakter dari sudut pandang dua ilmuan Muslim masa lampau, Ibn Miskawaiyh (930-1030 ) dan al-Ghazali (1058-1111), dengan harapan bahwa pandangan mereka dapat menjadi bahan renungan dan rujukan bagi kita dalam rangka membangun pendidikan akhlak dan karakter. Keduanya mempunyai perhatian yang khusus terhadap akhlak dan karakter.  Di antara tokoh nasional kita yang juga mempunyai perhatian khusus terhadap pembangunan etik dan karakter ini adalah Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994); pemikirannya sedikit banyak akan ditampilkan sebagai pembanding untuk memudahkan memahami arti penting pembangunan akhlak dan karakter bagi bangsa dan masyarakat kita.
2.     Akhlak dan Karakter
Akhlak berasal dari bahasa Arab al-khuluq yang berarti prilaku[2]. Menurut istilah, akhlak diartikan sebagai tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Berarti akhlak berkaitan dengan pertimbangan nilai baik dan buruk (values) dan secara sadar dilakukan oleh pelaku. Pertimbangan nilai (baik dan buruk) inilah yang diyakini oleh pelaku sebagai standar prilaku, yang menjadi ukuran penilaian atas prilakunya. Karena pada prinsipnya standar prilaku itu menyangkut penilaian masyarakat secara kolektif. Dalam perspektif Islam ruang lingkupnya meliputi ruang waktu kehidupan manusia secara total, dari dunia sampai akhirat, maka sumber standar pertimbangan nilai itu tidak cukup nalar manusia meskipun secara kolektif, harus berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia dan totalitas kehidupannya. Itulah sebabnya, akhlak dalam Islam harus bersumber dari sumber-sumber utama ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah.

Jika ingin makalah ini silahkan menghubungi kami,



[1] Ada beberapa istilah yang berkaitan erat dan sering digunakan menunjukkan entitas yang sama, yaitu, akhlak, karakter, kepribadian, watak, dan tempramen. Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.[1] Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang (Wikipedia). Character: all the qualities and features that make a person, groups of people, and places different from others.  Trait : a particular quality in your personality. Personality : the various aspects of a person’s character that combine to make them different from from other people. Temperament : a person or an animal’s nature as shown in the way they behave or react to situasion or people.  A S Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dectionary, Sixth Edition,  Oxford : Oxford University Press, 2003, pp. 208, 982, 1391, 1436.
[2] Kamal al-Yazijy, Al-Nushush al-Falsafiyah al-Muyassarah 3th ed., Bayrout : Dar al-Ilm Li al-Malayin, 1963, h. 159.

Komunitas Blog Guru Sosial Media