Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Jam Sekolah Panjang Berdampak pada Psikologis Anak

Jam Sekolah Panjang Berdampak pada Psikologis Anak


Bagi kita yang memiliki anak yang sekolah full day School, sekarang sudah mempertimbangkan hal ini sebab baru - baru ini majalah tempo mempublish masalah Jam Sekolah Panjang Berdampak pada Anak, hal ini sesuai dengan pendapat Kak Seto yang di kutip oleh majalah Tempo. Ulasannya berasal dari Majalah Tempo berikut.
TEMPO.CO , Jakarta:Ratih Wulandari kebingungan dengan sakit panas tak berkesudahan yang menimpa putra tunggalnya, Arkan Putra Hati. Pelajar kelas 3 sekolah menengah pertama swasta favorit di Jakarta Selatan sudah dibawanya ke beberapa dokter. Dalam keadaan sakit, ia tetap nekad mengajak anaknya jalan-jalan ke Solo meski amat khawatir. “Eh, sampai di Solo, panasnya turun,” katanya tertawa. “Rupanya ia stress.”
Penyebab stress Arkan diketahui lantaran jam pelajaran di sekolahnya sebagai sekolah unggulan amat mengerikan. Dua kali dalam sepekan, sekolah itu mewajibkan siswa yang berada di tahun terakhir mendapatkan tambahan pelajaran agar sukses melewati ujian akhir nasional. Walhasil, Pada Selasa dan Kamis, Arkan memulai belajar dari jam 7 pagi itu dan berakhir jam 7 malam. “Kasihan sebenarnya, tapi teman-temannya kan juga diperlakukan sama,” kata Ratih berdalih.
Pengamat anak Seto Mulyadi mengatakan, jam pelajaran bagi siswa tingkat menengah di Indonesia jauh melampaui batas normal. Para siswa di negeri ini rata-rata harus menjalani sekitar 1.400 jam pelajaran setiap tahunnya. Padahal, panduan yang dibuat UNESCO menyarankan jam pelajaran yang ideal sebesar 800 jam setiap tahunnya. “Jam pelajaran di Indonesia itu termasuk yang paling tinggi di seluruh dunia,” ujarnya.
Selama ini, kata Seto, sistem dan budaya pendidikan di Indonesia sangat mengagungkan pembenahan sisi kognitif. Para siswa banyak dijejali mata pelajaran yang memaksa mereka terampil berhitung dan menghafal. Mereka diperlakukan laiknya sebuah robot, harus menuruti aturan main yang sudah dibuat. Padahal, pendidikan bagi anak juga perlu dilakukan untuk mengembangkan dunia kreatifitas mereka.
Menurut Seto, sistem ini merupakan salah satu pemicu mengapa seorang anak mudah merasa kesal dan jenuh. Mereka bahkan menjadi fobia ketika menghadapi mata pelajaran tertentu. Sayangnya, tidak banyak guru yang memahami bagaimana merespon masa tumbuh kembang anak sesuai kebutuhannya masing-masing. Pada siswa yang gagal mengikuti mata pelajaran tertentu tidak jarang menjadi korban karena mendapat hukuman.
Kisah tragis pernah dialami seorang siswa sekolah menengah pertama di Jakarta beberapa waktu lalu. Suatu waktu, ia nyaris bunuh diri karena gagal mengikuti keinginan kedua orang tuanya yang memintanya meraih angka 90 untuk mata pelajaran matematika. Ia selau dibanding-bandingkan dengan capaian yang pernah dilakukan semua kakaknya. "Anak itu merasa tidak dibesarkan menjadi dirinya sendiri," kata Seto.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media