Diberdayakan oleh Blogger.
Home » , » Masih Jaman Kepala Sekolah yang Otoriter?

Masih Jaman Kepala Sekolah yang Otoriter?


Kepala Sekolah yang Otoriter
Seorang pemimpin sekolah/ kepala sekolah yang bersikap otoriter akan nampak seperti pada ciri-ciri yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu dalam menjalankan roda kepemimpinannya, pemimpin sekolah/ kepala sekolah otoriter seringkali menggunakan strategi gaya mendikte dan menjual.
Gaya mendikte dapat digunakan ketika para pendidik dan tenaga kependidikan berada dalam tingkat kematangan rendah, sehingga perlu petunjuk serta pengawasan yang jelas. Gaya ini disebut mendikte karena pemimpin dituntut untuk mengatakan apa, bagaimana, kapan, dan di mana tugas dilakukan. Gaya ini ditekankan pada tugas, sedangkan hubungan hanya dilakukan sekedarnya.
Gaya menjual digunakan ketika kondisi pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah berada pada tahap rendah sampai moderat, sehingga mereka telah memiliki kemauan untuk meningkatkan profesionalismenya tetapi belum didukung oleh kemampuan yang memadai. Gaya ini disebut menjual karena pemimpin banyak memberikan petunjuk. Dalam tingkat kematangan pendidik dan tenaga kependidikan seperti ini maka diperlukan tugas yang tinggi serta hubungan yang tinggi agar dapat memelihara dan meningkatkan kemampuan dan kemampuan yang telah dimiliki.
Seorang pemimpin sekolah/ kepala sekolah yang otoriter dapat memicu timbunya berbagai perilaku pada pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi bawahannya dalam hal ini para guru. Seperti perilaku paternalistik, kepatuhan semu, kemandirian dalam bekerja lemah, konsensus, dan menghindar.
Perilaku paternalistik dalam kepemimpinan memunculkan sikap dan keengganan bawahan untuk mengungkapkan pikiran, pendapat serta kritik terhadap atasan karena khawatir dianggap menentang atasan, dominasi pemimpin sekolah/ kepala sekolah menghalangi munculnya gagasan pembaharuan dari bawah.
Perilaku kepatuhan semu adalah kepatuhan, loyalitas dan rasa hormat selama pemimpin sekolah/ kepala sekolah menduduki posisi pimpinan. Loyalitas akan hilang setelah pemimpin diganti atau mengalami rotasi. Dalam pendekatan kepatuhan semua ini sumber daya manusia sering digunakan secara tidak efektif.
Perilaku kemandirian kurang karena telah terkondisi kebiasaan menunggu perintah dan instruksi atasan sehingga inisiatif, kreatif dan tanggung jawab kurang bagi bawahan.
Perilaku konsensus merupakan produk musyawarah atas dasar gotong royong, tetapi dalam kenyataannya sering dimanipulasi menjadi arena penggarapan, kalau perlu dengan tekanan.
pemimpin sekolah/ kepala sekolah hendaknya bersikap terbuka tetapi tetap menjaga jarak dengan pendidik dan tenaga kependidikan, agar mereka dapat mengemukakan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap permasalahan yang dihadapi oleh para pendidik dan tenaga kependidikan dapat segera diselesaikan dan dipecahkan bersama, sehingga tidak ada masalah yang berlarut-larut dan mengganggu tugas utama yang harus dikerjakan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media