Diberdayakan oleh Blogger.

Bagaimana jika kita melakukan kebaikan karena ingin di puji ???

Saat anak saya menanyakan tentang : Bagaimana jika kita melakukan kebaikan karena ingin di puji ???
saya pun harus mencari jawaban yang tepat yang bisa di cerna dengan mudah oleh anak saya karena ini pertanyaan yang berhubungan dengan pembentukan akhlak anak kami.

Hendaknnya kita melakukan segala kegiatan dengan hati yang ikhlas artinya tidak mengharapkan imbalan apa - apa .Ikhlas berarti juga tidak mengharapkan pujian ataupun penghormatan orang lain .
Disaat kebaikan yang dilakukan dengan hati yang ikhlas akan dicatat sebagai amal perbuatan .Adapun kebaikan yang dilakukan karena ingin mendapatkan imbalan ataupun pujian tidak akan mendapatkan pahala .Orang yang melakukan kebaikan karena ingin dipuji disebut riya,orang seperti ini sebenarnya hanya berpura - pura baik padahal hatinya menolak kebaikan itu.Allah menggolongkan prang seperti ini sebagai orang yang munafik.

Rasulullah Muhammad SAW menjelaskan bahwa jika kita melakukan suatu kebaikan. Lalu kita mengaharapkan pujian dari orang lain atas kebaikan kita itu, maka sikap seperti itu disebut sebagai ‘riya’. Apa sih akibatnya kalau kita riya? Sabda Rasulullah “Riya itu akan menghapuskan pahala kebaikan kita, seperti api yang membakar kayu hingga menjadi arang.” Hangus. Tidak bersisa lagi kayunya. Tidak bersisa lagi pahalanya. Maka setiap kali berbuat kebaikan, jaaangan pernah menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran atau tujuan dari kebaikan-kebaikan kita. Luruskan niat itu semata-mata lillaahi ta’aala.

 jangan lagi berbuat baik dengan mengharapkan puja puji orang lain. Karena selain menggangu mood kita, cara seperti itu juga membuat Allah murka. Dalam surah 107 (al-Maa’uun) ayat 4-6 Allah berfirman; “Maka celakalah orang yang solat. Yaitu orang yang lalai terhadap solatnya. Dan orang yang berbuat riya.”

Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).
Bentuk Riya’

Didalam mencapai tujuannya, para mura’i (orang yang riya’) menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai berikut:


  1. Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat atau rajin berpuasa.
  2. Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah.
  3. Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat, menghafal atsar (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat memperhatikan jejak salaf.
  4. Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak khusyu’ dan lain-lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media