Diberdayakan oleh Blogger.

Prioritas Pengembangan Sekolah


Prioritas Pengembangan Sekolah
Strategi Prioritas pengembangan sekolah
Dalam melaksanakan tugasnya di era global, apalagi untuk mengembangkan sekolah, maka guru profesional haruslah memiliki berbagai kompetensi. Adapun kompetensi guru profesional antara lain meliputi; kemampuan untuk mengembang¬kan pribadi peserat didik, khususnya kemampuan intelektual, serta membawa peserta didik menjadi warga negara dan masya rakat Indonesia yang bersatu berdasarkan Pancasila. Seorang guru profesional berfungsi untuk mengajar, mendidik, melatih dan melaksanakan penelitian masalah-masalah pendidikan (Tikar, 2003:88).
Kepemimpinan guru dituntut untuk menampilkan kepe mimpinan yang penuh kreativitas. Diperlukan pemimpin yang kreatif untuk mencapai inovasi. Ada beberapa karekteristik orang yang kreatif dalam konteks kepemimpinan, yaitu: (1) Pribadi kreatif mebutuhkan akses terhadap pimpinan senior. Pimpinan juga memandang penting berhubungan dengan pribadi kreatif sebagai jantung hati organisasi, (2) Pribadi kreatif bekerja baik dalam etos yang menyenangkan, (3) Pribadi kreatif memer lukan hambatan, (4) Pribadi kreatif memerlukan pengakuan yang berbeda, (5) Pribadi kreatif memerlukan kesempatan masuk akal yang pekerjaan mereka akan terlihat bersinar setiap hari, (6) Pribadi kreatif memerlukan kepercayaan fundamental, (7) Pekerjaan orang kreatif adalah hanya satu bagian dari keseluruhan, tidak boleh mengasingkan diri, (8) Pribadi kreatif memerlukan bekerja dengan orang lain, (9) Pribadi kreatif tidak menyusun kemenangan berharga, (10) Pribadi kreatif suka berterima kasih, (11) Pribadi kreatif dalam semua ".
Kepemimpinan guru kreatif merupakan totalitas pribadi yang menyerap nilai, sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dapat menempatkan guru sebagai pemimpin pembelajaran. Patut dicermati tawaran Manz dan Sim, Jr (2001:7), bahwa kepemimpinan super memiliki beberapa nilai terpenting dalam perilakunyam, yaitu:
1)Memberikan perubahan cepat, kompleksitas dan teknologi tinggi baru berperan dalam bekerja dari era informasi. Kepe mimpinan super diperlukan bahwa lebih dari pada sekarang bahkan sejak dulu,
2)Kepemimpinan super memimpin yang lain dan memimpin diri sendiri,
3)Langkah utama yang pertama adalah menuju ahli memimpin diri,
4)Kepemimpinan super membangun nilai, model, dorongan semangat, reward, dan dalam banyak cara lain mempercepat memimpin diri dalam individu, kelompok, dan budaya organisasi yang luas".
Itu artinya jika guni menerapkan kepemimpin super maka dia memulai dari memimpin diri, lalu memberi pengaruh kepada peserta didik untuk perubahan dalam perilaku pembelajaran. Pada gilirannya, perubahan perilaku dalam proses pembelajaran bermuara kepada kinerja pembelajaran, atau hasil belajar yang diinginkan.
Pendidikan merupakan bidang kerja yang membutuhkan komitmen pribadi tingkat tinggi. Oleh karena itu, semua pribadi yang terkait dengan pendidikan harus memandang bahwa perubahan pendidikan merupakan keharusan bagi merespon kebutuhan bangsa, pemerintah, pihak terkait. Bahkan perubahan pendidikan berkenaan dengan masa depan umat manusia dalam menata kehidupan dan kebudayaannya. Tanpa perubahan yang bermakna dengan dirancang oleh manajemen strategik, maka pendidikan menjadi sesuatu yang stagnan, dan diragukan kemampuannya membuat yang baru untuk kemajuan bagi kebudayaan kontemporer.
Pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya.
Tujuan pendidikan bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and civilized human being) (Tilaar, 2000:20).
Bagaimanapun, eksistensi sekolah merupakan hal yang menentukan perubahan atau perkembangan masyarakat. Dalam perspektif sosial, ternyata sekolah memberikan arah perubahan masyarakat, karena pengembangan sumberdaya manusia melalui sekolah akan menjadi penentu perilaku sosial dalam membangun dan mengisi peran sosial yang ada di masyarakat.
Organisasi muncul sebagai produk budaya masyarakat. Sementara dalam eksistensinya organisasi juga memiliki budaya tersendiri yang menjadi pola perilaku orang-orang sebagai individu dan kelompok dalam organisasi.
Mengacu kepada pendapat Schein (2004:17) bahwa budaya adalah "a pattern of shared basic asumption that was learned by a group as it solved its problems of external adaptations and internal integration, that has worked well enough to be considered valid and, therefore to be taught to new members as the correct way to perceive, think and feel in relation to those problems".
Pendapat di atas menegaskan bahwa budaya adalah pola pembagian asumsi dasar yang dipelajari oleh kelompok dalam memcahkan masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal sehingga dapat bekerjasama dengan baik sesuai pertimbangan valid dalam pemikiran baru, persepsi yang benar, berpikir, merasa dalam kaitannya dengan masalah-masalah kehidupan dan organisasi.
Guru yang disiplin bagus, tapi lebih bagus menularkannya kepada iklim dan budaya sekolah. Sebagai salah satu variabel yang membantu menyusun organisasi sekolah, pengaruh budaya organisasi sekolah terhadap proses belajar mengajar menjadi pusat pemahaman. Dapat ditegaskan bahwa budaya organisasi sebagai kumpulan definisi dari lingkungan sosial organisasi, nilai-nilai dan asumsi-asumsi yang menciptakan pola-pola perilaku dalam organisasi. Budaya adalah irama yang digunakan oleh antropologi untuk menggambarkan pola-pola variasi kehidupan kelompok yang berbeda. Hal ini menekankan pada nilai-nilai, sikap-sikap, kepercayaan, ritual dan kebiasaan anggota dalam kelompok organisasi (Owens, 1995). Bagaimana pun, kebudayaan adalah sebuah akar sejarah yang mengum pulkan corak pola pikir masyarakat melalui pengalaman seperti melihat, menaksir, dan berinteraksi, mengerti, dan memahami kekuatan kerja dalam kelompok manusia dan organisasi.
Chatman dan Jehn (1994) dalam Beach dan Reinharzt (2000) mengenalkan tujuh elemen-elemen yang membantu budaya sebuah organisasi. Ketujuh elemen ini meliputi: (1) inovasi atau cara anggota berkreasi dan mengembangkan ide-ide baru, (2) stabilitas atau meciptakan peraturan-peraturan untuk memprediksi tempat kerja, (3) orientasi atau cara berinteraksi antara individu yaitu kejujuran, dukungan dan menghormati hak-hak anggota, (4) memfokuskan hasil orientasi untuk men capai hasil yang diinginkan, (5) kelembutan dan bekerja secara santai, (6) perhatian yang menyeluruh untuk mendaptkan hak-hak dan, (7) gabungan orientasi atau bekerjasama dalam kelompok.
Ketujuh elemen tersebut perlu melekat dalam kepemim pinan guru dalam mengarahkan, membimbing dan mem pengaruhi peserta didik untuk melakukan pembelajaran men capai tujuan. Bagaimana dimensi budaya sekolah mampu menggerakkan perubahan kualitatif dari dalam sekolah. Dengan adanya peningkatan mutu, kerjasama yang baik, komunikasi efektif, keunggulan dalam prestasi akademik dan keterampilan siswa, disiplin yang baik maka nilai-nilai positif ini memberikan kontribusi kepada efektivitas sekolah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media