Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Pemimpin Fasilitatif dan Iklim Belajar

Pemimpin Fasilitatif dan Iklim Belajar


Pemimpin Fasilitatif dan Iklim Belajar
Perilaku kepemimpinan mengungkapkan bagian dari proses kepemimpinan- meliputi menyusun sasaran, membuat jalan untuk bergerak, membangkitkan semangat orang-orang, dan saat yang sama perilaku ini pengaruh atas sikap, motivasi dan perilaku dari anggota atau kelompok (Pierce dan Newstrom, 2006:165).
Iklim pembelajaran adalah konsep yang mudah untuk dipahami tetapi sulit didefinisikan. Beberapa definisi menekankan "penyusunan harapan tinggi "bila orang lain berteman baik, atau pribadi organisasi". Semua tampak setuju, bagaimanapun peran kepala sekolah merupakan kunci utama".
Pembahasan tentang iklim sudah sering difokuskan atas inisiatif individu administrator: sedikit sekali orang luar yang mengambil waktu di kelas, membentuk kualita spribadi pelajar, memberikan imbalan terhadap orang yang berprestasi. Gerakan menuju kolaborasi berkaitan dengan lebih banyak terhadap proses yang rumit.
Sergiovani, yang mengajukan konsep komunitas menyusun banyak dari dimensi iklim, mengidentifikasi hubungan sebagai pertemanan. Dalam komunitas ekolah, hubungan didasarkan atas membagi nilai daripada peran birokratis, menghasilkan dalam pribadi yang peduli, mendengar dan memahami, menghormati yang lain, juru dan terbuka serta sensitif. Kepala sekolah membutuhkan untuk emmulai dengan menggunakan kewenangan birokratik tetapi akhirnya mem bangun hubungan didasarkan atas profesional dan kewenangan moral".
Suatu dari cara yang sangat nampak dari kepala sekolah menampilkan kepemimpinan pengajaran adalah dengan mengamati dan memberikan umpan balik kepada guru, tetapi juga memberikan dorongan kemajuan. Para guru mungkin merasa skeptis atas nasihat administrator, khususnya bila suatu awal tahun pelajaran berusaha mengurangi berbagai persoalan yang rumit dalam kelas dengan memberikan daftar isian".
Keterlibatan para guru adalah suatu peluang dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sejak dari perencanaan sampai kepada proses evaluasi. Pendekatan kolaboratif dalam kepemimpinan pengajaran mengarahkan kepada hal bimbingan, pelatihan sesama teman, pengajaran klinis, portopolio. Bagai manapun, keterlibatan mereka menempat peran kepala sekolah berperan krusial dengan mendukung pendekatan baru, mem berikan dukungan logistik dan mendorong pada guru yang sudah menyiapkan peranan baru dalam memajukan pem belajaran.
Pemimpin Fasilitatif dan Program Pengajaran
Secara tradisional, kepemimpinan pengajaran dipandang sebagai rangkaian tugas teknis- membuat sasaran, memantau ruang lingkup dan urutan, memilih buku teks, dan memelih tes yang sesuai-sebagai tugas kepala sekolah, tanggung jawab akhir untuk semuan keputusan.
Model atau strategi kepemimpinan fasilitatif sebejatinya termasuk dalam format perilaku kepemimpinan transformasional yang menginginkan perubahan organisasi kepada kondisi yang lebih baik. Maka fokus kepemimpinan masa depan adalah bergerak dalam suatu arah yang cepat. Visi kepemimpinan adalah suatu pandangan masa depan yang perlu terbagi kepada pengikut.
Kotter (1990:3) menjelaskan bahwa:"Leaders achieve their vision by challenging, encouraging, enabling, coaching and being a model for their leadership team andfolkywers. Leadership is akvays a personal relationship between the kader and his or her leadership team andfollowers ".
Pendapat ini menegaskan bagi para pemimpin dalam mencapai visi mereka adalah dengan tantangan, membesarkan hati, membolehkan, pelatihan dan sebagai teladan bagi tim kepemimpinannya dan anggota. Karena itu, kepemimpinan biasanya suatu hubungan personal dengan pimpinan dan tim atau anggota kepemimpinannya.
Sekarang ini, pekerjaan ini dituliskan sebagai kemampuan guru untuk membuat keputusan utama tentang isi dan metode, tidak hanya secara individual dalam kelas mereka, tetapi secara kolektif atas basis cakupan sekolah. Bagaimanapun, jenis pem buatan kurikulum ini, yang memerlukan tugas dialog, harus
didasarkan kepada otonomi guru, yang didorong dan didukung oleh kepala sekolah".
Hal yang sama adalah menerapkan penilaian. Banyak sekolah sudah menjajaki alternatif bentuk evaluasi (penilaian autentik dan pertandingan kemampuan pembelajaran) yang memerlukan penilaian profesional. Guru adalah orang yang aktif berpartisipasi dalam memformulasikan penilaian adalah lebih mendekati pada pemahaman mereka dan mengambil pendekatan yang lebih matang untuk menggunakan metode pengajaran. Tetapi peristiwa pembelajaran ini hanya bila guru memberikan waktu dan dukungan untuk bekerja melalui pembahasan persoalan bersama".
Kepemimpinan fasilitatif sebagai suatu perilaku yang menggunakan kemampuan kebersamaan dari sekolah untuk beradaptasi, memecahkan masalah dan peningkatan kinerja. Hal ini dicapai dengan penggunaan pegawai secara aktif dalam proses pengambilan keputusan, peranan pemimpin tidak untuk memecahkan problem pribadi tetapi untuk memberitahu bahwa problema tersebut adalah untuk dipecahkan.
Seperti halnya kepemimpinan transformasional, strategi fasilitatif mengundang pengikut/anggota untuk berusaha secara tekun dan energi pisik dalam bekerja. Tetapi pemimpin transformasional kadang-kadang bekerja menggunakan pen dekatan dari atas ke bawah, sementara strategi fasilitatif mem berikan kepada guru sebagai teman harian dalam membawa visi untuk kehidupan. Pimpinan bekerja dalam konteks dari belakang, bukan pada posisi di depan gerbang.
Tindakan kepala sekolah yang menggunakan strategi fasilitatif bilamana mereka menangani hambatan sumberdaya, berikan kemudahan positif, kerjasama dan interaksi antara anggota pengajaran tim.
Dalam konteks ini proses kepemimpinan berpengaruh terhadap semua aspek kinerja sekolah. Lebih dari secara spesifik, kepemimpinan pengajaran berperan dalam kegiatan pembinaan personil guru, perlindungan sekolah dan mengatasi tekanan eksternal yang kurang mendukung, pemantauan prestasi murid, penyediaan waktu dan energi untuk perbaikan sekolah, pemberian dukungan kepada guru dan pencarian sumberdaya ekstra sekolah.
Kekuasaan dipandang sebagai dominasi melalui kewe nangan formal, mengalir dari atas ke bawah dan mengeluarkan keputusan dalam kelompok orang tertentu. Kekuasaan fasilitatif sangat berbeda, didasarkan atas bersifat saling berhubungan, dan dinergis, dan kekuasaan mengalir dalam arah yang ber lapis. Hirarki sudah ditetapkan secara utuh, tetapi pimpinan menggunakan kewenangannya untuk mendukung pengem bangan keprofesionalan staf'.
Sekolah mungkin secara khusus sebagai arena yang sesuai bagi jenis kekuasaan kepemimpinan ini, sebab pengajaran memerlukan otonomi dan kreasi yang beragam tidak formula yang terstandar. Guru tidak akan sukses hanya dengan meng andalkan mandat atas pelajar, daripada mereka bekeraja secara; langsung, menciptakan kondisi yang kondusif bagi pelajar dalam belajar. Kepala sekolah mengawasi peristiwa pembelajran dengan mengurangi perintah, mereka harus menciptakan lingkungan dalam mana para guru dapat bekerja secara efektif. Pendekanya, kekuasaan fasilitatif adalah kekuasaan menyeluruh, bukan kekuasaan berlebihan".
Kepemimpinan fasilitatif terjadi dalam struktur yang ada, bermakna bahwa secara normal memiliki otoritas legal keputusan untuk membuat keputusan berkelanjutan dalam melakukannya. Sama halnya, pendelegasian, di mana adminis trator secara umum memberikan tugas kepada bawahan, dalam lingkungan yang memudahkan, setiap orang dapat berinisiatif tugas dan mengambil seseorang untuk berpartisipasi. Proses kepemimpinan fasilitatif dalam kerangka kerja informal berlangsung melalui negosiasi dan komunikasi.
Lingkungan kepemimpinan yang fasilitatif adalah kaya, rumit dan sulit diprediksi, memerlukan keterampilan memimpin yang berjalan lancar, didukung kemampuan teknis. Tindakan mengarahkan melalui orang lain tidaklah mudah karena mengurangi formula yang ada". Jelasnya, pemimpin fasilitatif perilakunya berbeda dari pemimpin tradisional. Mereka menghabiskan banyak waktu menegosiasikan keputusan, membuat hubungan semua pihak, mendorong pandangan kompetitif, dari bawahan, membuat keputusan yang berkembang dalam berbagai aturan dan kelas.
Kepemimpinan fasilitatif mungkin kurang bergantung atas penyusunan perilaku tertentu daripada pelaskanaan sistem keyakinan. Di sini ditekankan pentingnya kepercayaan, meninggalkan pengendalian dan meningkatkan kepercayaan bahwa orang lain dapat dan akan berfungsi secara bebas dan sukses dalam kerangka kerja umum dari pengharapan dan akuntabilitas (pertanggungjawaban)".
Pencapaian kepercayaan ini bukan tugas mudah. Karena itu, kepemimpinan fasilitatif memerlukan pandangan lebih kaya akan kehidupan organisasi. Setidaknya ada empat hal yang diidentifikasi sebagai kerangka pemikiran kepemimpinan
Ini. F;okus kerangka rasional atas tuntutan formal dari sistem, seperti; penyusunan sasaran, kebijakan, dan hambatan. Kerangka sumberdaya manusia, mempertimbangkan kebutuhan manusia dari partisipan. Kerangka simbolik yang dialamatkan kepada tatacara, nilai, dan ritual yang memberikan anggota dengan perasaan suatu masyarakat. Kerangka politik memper timbangkan cara bahwa partisipan akan mengejar minat mereka".
Sedikit saja pimpinan menggunakan lebih dari dua kerangka ini; bahkan dalam lingkungan kepemimpinan lasilitatif, semuanya adalah penting sekali. Sebagai contoh: kepala sekolah adalah orang yang memudahkan keterlibatan penuh pengajaran dalam evaluasi adalah lebih dekat untuk berhasil jika kepala sekolah dapat mengenali kecemasan yang disebabkan evaluasi (kerangka sumberdaya manusia); antisipasi guru mengenai tentang penilaian teman (kerangka politik), menciptakan dukungan dengan merekam isu dalam istilah membagi keahlian (kerangka simbolik), dan penilaian apakah prosedur baru sepenuhnya mencapai sasaran mereka (kerangka rasional).
Kepemimpinan fasilitatif menciptakan bangunan dari keadaan tetap pergantian pertanggung jawaban dan hubungan, bahkan sistem formal berkelanjutan untuk tertutup bagi satu orang dari hasilnya. Kepala sekaolah mungkin kagum tentang kebijaksanaan dari kepercayaan tidak akan membagi akun tabilitas, guru mungkin cemburu tentang apa yang dicapai seseorang dengan penghargaan kepala sekolah.
Perlu disadari bahwa tidak setiap sekolah memiliki kesiapan menerapkan kepemimpinan kolaboratif, dan setiap organisasi melampaui beberapa periode dan bila begitu tingginya gaya kepemimpinan yang memerintah justru lebih sesuai". Karena itu, kepala sekolah harus mengkomunikasikan maksud secara jelas dan secara hati-hati memilih target untuk usaha-usaha yang dipahami baik, secara ideal, satu persoalan yang penting kepada guru, jadi cukup aman bahwa kepala sekaolah dapat hidup dengan hasil lain. Munculnya kepemimpinan fasilitatif seharusnya juga memelihara jaringan arus per temanan sejawat untuk bentuk suatu jaringan dukungan.
Banyak pakar menyarankan kesabaran, dengan men catat bahwa:" perubahan adalah proses, bukan suatu peristiwa", dia mencatat bahwa individu harus berubah sebelum lembaga dapat diubah, dan bahwa mereka melakukan juga dalam cara berbeda dan dalam jumlah berbeda. Pemimpin fasilitatif harus dapat mengadaptasi strategi mereka untuk keragaman pribadi anggotanya".
Kepala sekolah harus menjamin bahwa para guru merasa didukung dan mendorong untuk memelihara perasaan satu masyarakat di dalam sekolah. Usaha-usaha inovasi oleh kelompok kecil guru dapat dihargai dengan mendukung kemudahan mereka menjalankan inovasinya, meskipun kadang ada yang kontra dengan pemikiran inovatif yang dilaksanakan. Kepala sekolah harus juga menangani guru yang kurang dapat menerima peralihan menuju perubahan yang lebih baik. Untuk itu, diperlukan keluasan wawasan pemimpin fasilitatif uintuk memudahkan cara kerja guru dalam men¬jalankan perubahan ke arah yang lebih baik di sekolah.
Salah satu peran strategis kepala sekolah adalah sebagai pemimpinan pengajaran (imtructional kader). Sebagai pemimpin pengajaran kepala sekolah mempengaruhi para guru dan pegawai serta siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan. Proses mempengaruhi semua personil sekolah secara baik adalah dengan memudahkan para staf dan guru bekerja dan mengembangkan kemampuan pribadinya untuk mencapai kinerja tinggi dan kepuasan kerja.
Kepemimpinan fasilitatif menjadi salah satu strategi kepemimpinan yang mengakar pada kepemimpinan trans formasional sebagai pilihan yang paling tepat dalam memimpin untuk memacu perubahan ke arah yang lebih baik. Teutama dalam mewujudkan sekolah sebagai pusat perubahan sosial. Kepemimpinan kepala sekolah yang fasilitatif selalu memu dahkan semua personil sekolah dalam bekerja dan melahirkan kinerja yang tinggi, serta sepenuhnya menggunakan visi sekolah menjadi berbagai program yang bermakna dalam for mat kebijakan sekolah yang antisipatif.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media