Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Pembinaan Iklim Sekolah

Pembinaan Iklim Sekolah


Pembinaan Iklim Sekolah
Model kepemimpinan turut menentukan iklim sekolah. Gamage dan Pang (2003:91), menjelaskan pendapat Pashiardis mengidentifikasi karakteristik berkaitan dengan iklim sekolah efektif adalah yang kondusif terhadap pembelajaran, yaitu: memiliki kepala sekolah yang secara aktif menjalankan peran kepemimpinan pendidikan. Ditambahkannya, bahwa kebijakan sekolah, prosedur, peraturan dan tata tertib secara jelas ditata dan diperkenalkan kepada seluruh pihak terkait (stakeholders) sekolah. Karakteristik lain adalah adanya suatu rencana, yang berisikan tujuan dan sasaran, dan menginspirasi perilaku positif dari semua pihak terkait dengan sekolah.
Sekolah efektif memiliki guru-guru yang menjalankan sepenuhnya tanggung jawab bagi pembelajaran siswa. Bagai manapun, penekanan atas komunikasi terbuka, dan kerjasama antara anggota staf sekolah merupakan karakteristik iklim sekolah efektif. Selain di kelas, iklim dari optimisme dan harapan tinggi disediakan. Akhirnya, iklim kerjasama yang profesional dalam suatu sekolah efektif mendorong suatu kesadaran dan penerimaan masyarakat dalam eksistensi suatu sekolah".
Secara umum konsep iklim sekolah berasal dari konsep iklim organisasi. Monahan dan Hengest (1989:351) men jelaskan bahwa iklim organisasi adalah hasil interakasi yang berlangsung antara anggota organisasi sebagai pernyataan pemenuhan kepuasan individu".
Iklim sekolah adalah keadaan yang dihasilkan interaksi para guru dan kepala sekolah. Newell (1978:170) mengemukakan bahwa Istilah* "iklim (dimate)" dalam konteks organisasi dimak sudkan pengaruh keseluruh sistem dari kelompok manusia atau organisasi, mencakup perasaan dan sikap sebagai suatu sistem, sub sistem, super ordinat sistem atau sistem pribadi, tugas-tugas, prosedur atau konsep-konsep. Iklim bermuara kepada satu situasi sebagai hasil hubungan timbal balik antar individu.
Disimpulkan bahwa iklim sekolah adalah suasana hubungan antar guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam interaksi edukatif maupun interaksi biasa untuk membangun hubungan yang memuaskan secara timbal balik.
Menurut Moedjiarto, (2003:28) "iklim sekolah yang positif merupakan suatu kondisi di mana keadaan sekolah dan lingkungannya dalam keadaan yang sangat aman, damai, menyenangkan untuk kegiatan belajar mengajar".
Iklim sekolah positif ini adalah iklim sekolah yang terbebas dari kemungkinan kebisingan, keramaian maupun kejahatan. Semuanya senantiasa dalam keadaan yang tenteram, hubungan yang sangat bersahabat tampak menonjol di antara penghuninya, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa maupun para pegawai administrasi. Keadaan semacam ini, menyebabkan siswa merasa aman, tenteram, bebas dari segala tekanan, ancaman yang bisa merugikan kegiatan belajarnya.
Berkaitan dengan iklim sekolah yang positif, Modjiarto (2003:29) mengutip pendapat Sergiovani menjelaskan bahwa iklim merupakan energi yang terdapat dalam organisasi memberikan pengaruhnya terhadap sekolah, tergantung bagaimana energi tersebut disalurkan dan diarahkan oleh kepala sekolahnya. Semakin baik energi disalurkan dan diarahkan maka semakin baik pula pengaruhnya terhadap sekolah. Sebaliknya semakin jelek energi disalurkan dan diarahkan, maka semakin jelek pula pengaruhnya terhadap sekolah".
Dapat disimpulkan bahwa iklim sekolah yang positif merupakan satu norma, harapan dan kepercayaan dari personil yang terlibat dalam organisasi sekolah, yang dapat memberikan dorongan untuk bertindak yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi. Pimpinan sekolah memberikan perlindungan dan pengayoman pada tenaga pengajar dapat memfokuskan dirinya mencapai kinerja tinggi.
Iklim suatu sekolah dikatakan baik atau jelek, berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah. Tegasnya sekolah menampilkan iklim terbuka, memiliki otonomi, terkendali, kekeluargaan, kebapakan atau tertutup ditentukan dari awal kepemimpinan kepala sekolah.
Ketika terjadi pergantian kepemimpinan sekolah, iklim sekolah dapat berubah dari kepala sekolah yang kreatif kepada kepala sekolah kurang kreatif. Sebaliknya jika kepala sekolah sebelumnya kurang kreatif berganti kepada kepala sekolah yang kreatif maka akan terjadi perubahan iklim sekolah. Situasi perilaku personil sekolah berubah mengikuti suasana yang diciptakan pimpinan baru.
Newell (1978:173) menjelaskan manakala kepala sekolah tampil sebagai pribadi yang menciptakan iklim sekolah, guru juga merupakan orang yang menata iklim di dalam kelas. Hal ini banyak dirasakan pribadi siswa secara signifikan di dalam pengalamannya di sekolah. Karena itu, pengaruh perilaku guru di sekolah kadang terlalu signifikan bagi perilaku anak ketimbang perilaku orang tuanya". Di dalam perwujudan hubungan kerjasama antara kelompok guru, siswa dan orang tua dapat memberikan kejelasan tentang iklim sekolah yang terdapat di sekolah.
Iklim sekolah kondusif bagi pembelajaran adalah yang bebas dari permasalahan disiplin dan memiliki harapan prestasi anak yang tinggi. Dijelaskan oleh Clerence (1978:174) bahwa para guru akan berfungsi efektif dalam iklim yang terbuka. Gagasan dan perasaan mereka secara terbuka diungkapkan. Gagasan-gagasan dinilai atas kebaikan yang dimiliki, bukan yang menyampaikannya. Para staf bekerja sebagai kesatuan, sikap menghormati kepribadian dinyatakan dalam perilaku profesional organisasi yang menyentuh atmospir kehidupan.
Iklim mencerminkan hubungan kepala sekolah kepada bawahannya, dengan menampilkan sikap yang memberdayakan guru dan mencerdaskan anak. Kepala sekolah adalah sebagai orang tua yang mangasihi, dan memberikan perlindungan terhadap para siswa dari gangguan yang mungkin akan meng hambat kemajuan belajar anak.
Dalam situasi lain para guru mengadakan diskusi dengan rekan seprofesinya untuk meningkatkan pengajaran, sedangkan siswa dapat menggunakan buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang tersedia di perpustakaan dengan leluasa. Semua kegiatan sekolah diatur dengan tertib, dilaksanakan penuh tanggung jawab dan merata, dan adil.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa iklim sekolah yang baik dapat ditumbuh-kembangkan melalui perilaku kepemimpinan memberdayakan staf, guru dan siswa.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media