Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Kepemimpinan Mutu Sekolah Unggul : sebuah Tawaran

Kepemimpinan Mutu Sekolah Unggul : sebuah Tawaran


Kepemimpinan Mutu Sekolah Unggul : sebuah Tawaran
Sejatinya, kecenderungan umum kebijakan sekolah unggul, atau sekolah model merupakan rembesan dari gagasan sekolah efektif (Effective Schoot), dan sekolah unggul (excellence school). Nilai penting dalam mengembangkan sekolah unggul adalah kepemimpinan Kepala Sekolah yang kondusif bagi berkembangnya budaya sekolah unggul memotivasi staf memiliki sasaran tinggi dan prestasi siswa" (Mohrman (1994: 82-83).
Menurut Sallis (1993:38), pendidikan adalah jasa yang berupa proses pembudayaan. Pengertian ini berimplikasi pada adanya pemasukan (input) dan keluaran (output). Masukan adalah peserta didik, sarana, prasarana dan lingkungan.
Sedangkan keluaran adalah lulusan, atau alumni, mungkin hasil penelitian pelayanan profesional dari perguruan tinggi yang kemudian menjadi ukuran mutu, produk yang diberikan lembaga pendidikan adalah jasa pelayanan. Mutu jasa pelayanan pendidikan sangat bergantung pada sikap pemberi pelayanan di lapangan dan sikap serta harapan pemakai jasa pendidikan. Berarti jasa pelayanan pendidikan tidak berwujud benda (intangible) secara langsung. Namun mutu jasa pelayanan pendidikan dilihat dari indikator lunak (soft indicators) seperti: rasa kepedulian dan perhatian terhadap keinginan, harapan dan kepuasan pelanggan jasa pendidikan.
Tegasnya mutu adalah sifat-sifat jasa dan hasilnya yang sesuai dengan dan bahkan melebihi harapan, keinginan dan kebutuhan para pelanggan baik masa kini maupun pada masa akan datang.
Hoy, et.al (2000:12), menjelaskan mutu pendidikan adalah suatu evaluasi terhadap proses pendidikan dengan harapan tinggi untuk dicapai dan mengembangkan bakat-bakat para pelanggan dalam proses pendidikan. Mutu adalah hal yang esensial dalam proses pendidikan. Proses pem belajaran adalah tujuan organisasi pendidikan. Perbaikan proses pendidikan adalah level tertinggi dari keunggulan yang akan dicapai".
Mutu pedidikan adalah mutu lulusan dan pelayanan yang memuaskan. Mutu lulusan berkaitan dengan lulus dengan nilai baik, diterima melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi dan berkualitas, memiliki kepribadian yang baik. Sedangkan mutu pelayanan adalah melayani keperluan pihak ber kepentingan secara cepat dan tepat.
Eamshar dalam Oliver (1996:142) berpendapat bahwa c lalam bidang pendidikan agar tercapai kebutuhan pelanggan hari ini dan mendatang diperlukan mengembangkan kurikulum secara terus menerus berdasarkan suara hati masyarakat. Perlu ada rencana pemasaran lulusan, kejelasan spesifikasi lulusan dari rencana sumber daya yang ada. Harus jelas pelanggan dan produk dalam manajemen mutu terpadu. Pelanggan utama pendidikan adalah pelajar, yaitu orang yang menerima layanan pendidikan dan latihan (learner, student, trainee). Sedangkan produk adalah peluang pembelajaran (learning opportunity) yang harus tercapai dengan kurikulum dan sumber daya pembelajaran.
Dengan demikian mutu pendidikan terfokus kepada mutu pembelajaran, yang secara totalitas menggambarkan mutu proses, mutu orang, dan mutu hasil menggambarkan harapan pelanggan dan stakeholders sekolah.
Kelangsungan hidup dan keberhasilan organisasi harus memiliki pimpinan yang efektif. Salisbury (1996:149) Upaya memperbaiki kualitas dalam satu organisasi sangat ditentukan oleh mutu kepemimpinan dan manajemen yang efektif. Dukungan dari bawah hanya akan muncul secara berkelanjutan manakala pimpinannya berkualitas atau unggul.
Konteks kepempinan untuk mutu berkenaan dengan alasan melaksanakan kerangka kerja bahwa secara keseluruhan strategi akan menentukan peran bahwa mutu adalah berperan dalam struktur, yang akan menyatakan bagaimana usaha terbaik mutu memungkinkan dikelola. Maka dengan begitu kultur mutu mencatat nilai penting untuk memilih dan melak sanakan strategi dan membuat struktur dapat bekerja. Selanjutnya kebijakan berdasrkan nilai, akan memungkinkan organisasi menyediakan lingkungan yang penting untuk mengantarkan mutu. Sejak inilah kepemimpinan yang akan menangani secara bersama komponen tersebut sehingga menjadi pusat keterhubungan unsur strategi, struktur, budaya dan kebijakan organisasi yang digerakkan kepemimpinan. Penjelasan ini dirangkum dari pendapat Clark (1996:22), dapat dipahami pula dari gambar berikut:
Selanjutnya di sisi lain Kotter (1999:54) menjelaskan bahwa inti kepemimpinan dalam organisasi adalah mem bangun perubahan. Hal itu dimulai dari menentukan arah melalui pengembangan visi masa depan, kemudian strategi untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan mencapainya dengan visi. Tidak hanya sampai di situ, visi juga harus dibagi dan mengkomunikasikannya kepada para staf, guru dan pegawai.
Bush dan Coleman (2006:80) mengungkapkan pendapat Duignan dan Macpherson, bahwa tanggung jawab pemimpin pendidikan dalam meningkatkan dan meraih mutu sekolah yang diharapkan, yaitu:
1)Memberikan kesempatan kepada anggota untuk berpartisipasi dalam proses perubahan guna merefleksikan praktik dan mengembangkan pemahaman personal tentang sifat dan implikasi perubahan terhadap diri mereka,
2)Mendorong mereka yang terlibat dalam impelemntasi perbaikan sekolah untuk membentuk kelompok-kelompok sosial dan membangun tradisi saling mendukung selama proses perubahan,
3)Membuka peluang feedback positif bagi semua pihak yang terlibat dalam perubahan, dan
4)Harus sensitif terhadap outeomes proses pengembangan dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi feedback yang dibutuhkan, kemudian menindaklanjutinya dengan melibat kan beberapa pihak dalam mendiskusikan ide-ide dan praktiknya".
Usaha kepala sekolah mengarahkan pembahan mening katkan mutu keunggulan sekolah pada intinya berusaha memenuhi seluruh karakteristik sekolah efektif atau sekolah unggul. Apa sebenarnya ciri yang diberikan kepada sekolah efektif? Sekolah efektif atau sekolah unggul (exceUent School) berada dalam lapangan manajemen sekolah. Karakteristiknya menurut Edmonds dalam Beare.et al (1997:8) yaitu: (1) Guru guru memiliki kepemimpinan yang kuat, (2) guru-guru memiliki kondisi pengharapan yang tinggi untuk prestasi murid, (3) atmosphir sekolah yang tidak rigid (kaku), sejuk tanpa tekanan dan proses pengajaran yang kondusif, iklim yang nyaman, (4) sekolah memiliki pengertian yang luas tentang fokus peng¬ajaran, (5) sekolah efektif menjamin kemajuan murid dimonitor secara periodik.
Roe dan Drake (1980:132) berpendapat dari hasil pene litiannya ada lima kewajiban dan tanggung jawab kepala sekolah, yaitu: (1) berinisiatif meningkatkan dalam teknik dan metode pengajaran, (2) melaksanakan kurikulum secara baik sesuai kebutuhan pelajar, (3) mengatur para guru untuk memotivasi para pelajar pada tingkatan yang optimal, (4) memberikan peluang kepada guru-guru untuk mengikuti program pengem bangan pribadi guru, (5) mengatur para guru memberikan koordinasi dan menempatkan mereka mengajar mata pela jaran tertentu atas setiap tingkatan yang baik".
Di sinilah diperlukan pimpinan yang kredibel dan visioner pada setiap lembaga pendidikan untuk menentukan perbaikan melalui kebijakan sekolah. Dijelaskan Hesselbein (1996:211) bahwa memimpin yang mengarahkan kepada perubahan kualitatif tidak hanya memberi inspirasi, tetapi sekaligus mewujudkan visi dan tindakan yang melahirkan kinerja tinggi.
Mengacu kepada pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan kepala sekolah visioner berperan strategis dalam mempengaruhi staf, guru pegawai dan siswa menuju keunggulan dengan berbasis kepada kepentingan masyarakat yaitu pendidikan bermutu.
Kepala Sekolah memiliki kewenangan dalam mener jemahkan kebijakan dari pimpinan lebih tinggi sesuai dengan visi, misi dan sasaran sekolah yang mengacu kepada sumber daya di dalam dan di luar sekolah.
Ditegaskan oleh Duke dan Canady (1991:1), suatu kebijakan sekolah sangat penting bagi kehidupan siswa dan para guru, karena berkaitan dengan pembelajaran dalam rangka peningkatan efektivitas sekolah.
Beare, et al, (1989:102) menjelaskan bahwa kebijakan di sekolah diarahkan kepada semua orang tua dan pelajar sebagai suatu ungkapan nilai sekolah dan usaha membangun komitmen terhadap kebijakan, usaha membawa kesamaan orang dalam nilai sekolah".
Dijelaskan Newton dan Tarrant (1992:120) secara khusus, pembuatan kebijakan adalah suatu elemen penting dalam hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilayaninya".
Karena itu, kebijakan perlu dituliskan secara baik dan secara berkelanjutan diperbaharui. Ada beberapa keuntungan, yaitu: (1) Kebijakan menyatakan bahwa sekolah bekerja dalam keadaan efisien dan terurus, (2) Kebijakan mempercepat stabilitas, sasaran dan administrasi, (3) Kebijakan menjamin pengembangan yang matang konsistensi dalam keputusan dan prosedur pelaksanaan, (4) Kebijakan lokal harus konsisten dengan sistem kebijakan dan peraturan yang mempengaruhi sekolah, (5) Kebijakan membantu menjamin bahwa pertemuan menjadi teratur, (6) Kebijakan mempercepat stabilitas dan kelanjutan, (7) Kebijakan memberikan kerangka kerja bagi operasional sekolah, (8) Kebijakan membantu sekolah dalam penilaian pengajaran, (9) Pertanyaan kebijakan yang tertulis dan disebarkan kepada masyarakat membuat kebijakan akuntabel, (10) Kebijakan menjelaskan fungsi dan tanggung jawab kelompok, kepala sekolah dan staf lainnya "(Gamage dan Pang, 2000:172.
Kebijakan yang dibuat sekolah tidak hanya sekedar menjadi arah bagi tindakan operasional sekolah yang bernilai strategis, tetapi juga memperkuat komitmen tugas, kerjasama, akuntabilitas, bahkan pemberdayaan staf. Manfaat kebijakan diarahkan untuk meraih kepuasan harapan stakeholders pen didikan. Kebijakan sekolah adalah kerjasama dan keputusan oleh individu atau keinginan kelompok dengan kewenangan yang sah (legitimate) oleh dewan sekolah, pengawas, adminis trator sekolah atau komite sekolah dan tanggung jawab bagi kontrak negosiasi "(Duke dan Canady, 1991:2). Bila kebijakan dipahami dengan baik, semua orang dapat bekerja dengan efisien, memiliki kepuasan dan penuh komitmen.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media