Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Kepemimpinan Guru: Memberdayakan Anak Didik

Kepemimpinan Guru: Memberdayakan Anak Didik


Kepemimpinan Guru: Memberdayakan Anak Didik
Misi utama sekolah saat ini tetap mengutamakan proses pencerdasan kehidupan bangsa. Sisi lain dari misi sekolah adalah sebagai agen perubahan sosial. Untuk itu perubahan sekolah merupakan keharusan untuk merespon segala tuntutan kebutuhan masyarakat dalam aspek perubahan sosial budaya sehingga eksistensi dan pengembangan masyarakat dan bangsa dapat berlangsung dengan baik bertolak dari pembelajaran peserta didik. Salah satu tokoh penting dalam peningkatan mutu sekolah adalah guru. Peran dan kepemimpinan guru menjadi sentra kedua setelah kepala sekolah di dalam meng arahkan perubahan.
Kepemimpinan guru adalah termasuk dalam kepemimpinan pendidikan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Karena dalam interaksi dengan siswa, para guru tidak dibatasi pem belajaran klasikal saja, tetapi pembelajaran yang diciptakan guru untuk peserta didik juga dapat berlangsung di luar kelas Itu artinya, ada posisi dan level penting yang ditempati guru bagi perbaikan sekolah menuju kualitas keunggulan yang diharapkan.
Suatu hal yang signifikan adalah keteladanan dan kepro fesionalan guru dalam kepemimpinan pendidikan. Dijelaskan Suparno, SJ (2002:62) suatu hal yang penting dan mesti diupayakan oleh para guru adalah keteladanan. Keteladanan profesional menyangkut kompetensi keilmuannya, sedangkan keteladanan personal berkenaan dengan perilaku keseharian. Teladan para guru itulah yang dapat menantang para siswa bertumbuh menjadi pria atau wanita yang kompeten, ber tanggung jawab dan berperhatian".
Kerangka kerja yang harus dirancang kepala sekolah adalah bekerjasama dengan guru dan staf untuk memperoleh dukungan eksternal bagi perubahan sekolah, kemudian baru membuat prioritas-prioritas perubahan. Setidaknya hal itu berkenanaan dengan pemahaman menyeluruh terhadap ling kungan sekolah, khususnya pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Dengan demikian, kondisi ril yang dihadapi adalah memenahi kondisi kelas yang bermura kepada pencapaian tujuan pembelajaran siswa dengan bersama guru menampatkan peserta didik sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek. Karena itu, interaksi guru dengan siswa baik dalam kelas maupun di luar kelas adalah dalam rangka hubungan saling percaya, relasi yang demokratis, dialogis, dan rileksasi.
Itu berarti kepemimpinan para guru, jangan semata-mata mengandalkan sifat kharismatik. Karena bagaimanapun, kepemimpinan kharismatik dengan sifat bawaan semata. Sebagaimana dijelaskan oleh Yulk (2006:254) bahwa bawaan pemimpin dan perilakunya merupakan kunci yang menentukan kepemimpinan kharismatik. Kepemimpinan karismatik nampak memiliki kebutuhan yang kuat akan kekuasaan, percaya diri yang tinggi, dan kekuatan memperjuangkan keyakinan dan gagasan. Perilaku kepemimpinan yang menjelaskan bagaimana seorang pemimpin kharismatik mempengaruhi sikap dan perilaku anggota atau bawahannya, yaitu: (1) menyuarakan memperjuangkan visi, (2) menggunakan kekuatan, menyatakan bentuk komunikasi ketika menyuarakan visi, (3) menerima risiko pribadi dan membuat perjuangan untuk mencapai visi, (4) mengkomunikasikan harapan tinggi, (5) menyatakan percaya diri pada anggota, (6) perilau keteladanan yang konsisten ter hadap visi, (7) mengatur anggota sebagai posisi pemimpin, (8) membangun identifikasi dengan kelompok atau organisas,dan (9) pemberdayaan anggota".
Sedangkan kharisma bukan merupakan tindakan tetapi cenderung mengantarkan anak pada identifikasi berlebihan kepada guru kharismatik. Padahal peserta didik memiliki dirinya sendiri, ada nilai, keyakinan dan sikap. Kondisi seperti ini tidak boleh dikendalikan, atau dimanipulasi oleh kekuatan visi bawaan pemimpin kharismatik. Oleh sebab itu, kepemimpinan guru kharismatik perlu memperkuat keterampilan profesional dalam bidang pekerjaan, khususnya dalam mengelola pembela jaran yang demokratis, visioner dan penuh keteladanan. Kepe mimpinan guru seperti ini, siap untuk berubah dengan visi, dan konsisten untuk memperjuangkan visi sebagai sikap keteladanan untuk mendukung pembahan ke arah yang lebih baik di sekolah. Di sinilah perlu dicermati bagi guru dengan kepemimpinan kharismatik, bahwa perlu memahami kebutuhan, bakat dan nilai-nilai anak atau bawahan untuk mendukung perubahan dan kemajuan.
Bagaimanapun variabel penting perbaikan sekolah adalah kondisi praktik pembelajaran di kelas sebagai fokus dari berbagai strategi. Tentu saja hal ini berkenaan dengan tugas menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan di dalam kelas menjadi tanggung jawab guru. Di sini kepemimpinan transformasional dan kreatif guru sangat diandalkan, sehingga perbaikan sekolah yang berporos di dalam kelas mutlak ditangani guru-guru yang menyenangi perubahan kualitatif, bukan guru yang senang status quo.
Berikut ini dapat disoroti posisi guru dalam kerangka kerja perbaikan sekolah, sebagaimana dikemukakan Bush dan Coleman (2006:178), dengan mengacu kepada Hopkins (1996), yaitu:

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media