Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Efektivitas Kepemimpinan Pengawas

Efektivitas Kepemimpinan Pengawas


Efektivitas Kepemimpinan Pengawas
Pendidikan dalam era kekinian menerima pengaruh multidimensional dari berbagai aspek kehidupan. Manajemen merupakan faktor internal yang memberikan pengaruh menentukan bagi perubahan pendidikan yang di dalamnya berlangsung proses supervisi. Karena itu, kepemimpinan super visor semakin penting dalam membantu pemberdayaan guru berkenaan dengan fungsi para pengawas pendidikan.
Supervisi pendidikan merupakan bahagian penting dari proses administrasi pendidikan. Secara administratif, proses supervisi mengacu kepada pentingnya membantu para guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Sistem pendidikan menyatakan keinginan politis masyarakat. Perubahan dalam organisasi pendidikan tidak hanya direncanakan dan dikelola oleh pembuat kebijakan pendidikan saja, tujuannya harus dibuat dengan pengaturan partisipasi semua kelompok sosial dilibatkan (Owens, 1995:206).
Fungsi utama supervisi adalah peningkatan pengajaran. Dalam pandangan banyak orang, hal ini merupakan tugas utama (Wiles, 1967:117). Pengawasan yang dilakukan oleh para pengawas terhadap guru adalah berkenaan dengan pem belajaran dan administrasi yang dilaksanakan oleh para guru. Apakah kedua bidang tersebut sudah berjalan dengan baik atau masih belum sesuai dengan prosedur yang benar sebagai mana mestinya dilaksanakan oleh para guru.
Salah satu peran penting pengawas (supervisor) adalah sebagai pemimpin. Hal tersebut dijalankan para pengawas melalui proses mempengaruhi kepala sekolah dan guru di sekolah untuk mau melaksanakan tugas manajemen sekolah dan pembelajaran dengan efektif.
Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang sangat determinan terhadap kemajuan organisasi. Mencermati pendapat Owens (1995:132) kepemimpinan mengacu kepada dua konsep utama yang mencakup: (1) Kepemimpinan adalah suatu fungsi dari kelompok bukan individu. Kita berbicara tentu saja dari sejumlah individu sebagai pemimpin tetapi peristiwa kepemimpinan hanya dalam proses dari dua atau lebih orang berinteraksi. Dalam proses interaksi, seorang pribadi adalah dapat mempengaruhi/mendorong orang lain berpikir dan bekerja dalam cara-cara yang dinginkan. Hal itu membawa kunci kedua, yaitu pengaruh/mempengaruhi, (2) Kepemimpinan melibatkan pekerjaan mempengaruhi yang disengaja atas perilaku orang lain.
Perlu dikemukakan di sini bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dan mendukung orang lain untuk bekerja secara antusias menuju pencapaian tujuan. Dari definisi di atas ada tiga elemen penting, yaitu: pengaruh/dukungan, usaha sukarela, dan pencapaian tujuan"(Newstrom dan Davis, 2002:163).
Kepemimpinan adalah dipandang sebagai suatu komponen penting dari pada proses pengawasan, tetapi apakah yang meliputinya? Jelasnya, secara individual dalam organisasi sekolah siapa yang diharapkan untuk merubah kemampuan kepemimpinan untuk contoh pemimpin kepala sekolah adalah dasar dan koordinator sebagai contoh dari bennacam-macam pimpinan sekolah, tetapi posisi mereka dan namanya sendiri tidak menjamin kemampuan kepemimpinan. Apa, kemudian apakah kepemimpinan, dan apakah karakteristik dari pemimpin yang efektif? Ini adalah pertanyaan yang penting untuk pengawas untuk mengikuti sebagai mereka bekerja dengan guru di dalam memperbaiki proses belajar mengajar.
Sesungguhnya pemimpin yang otoriter (orang yang memutuskan dan menetapkan) disebut sebagai teori (X) dengan kriteria berorientasi kepada tugas. Di sisi lain ada pemimpin partisipatif (orang yang membolehkan anggotanya bekerja secara bebas) memegang teori (Y). Dua gaya kepemim¬pinan ini dapat dibedakan sebagai orientasi tugas (task oriental) dan orientasi manusia (people oriented) telah menghasilkan kesan besar dalam perubahan organisasi sepanjang sejarah kebudayaan manusia.
Dijelaskan lebih lanjut, bahwa gaya kepemimpinan dibuktikan oleh suatu pemimpin khusus adalah kombinasi dari orientasi perilaku tugas, dan perilaku orientasi manusia. Sebagian pemimpin adalah sangat orientasi tugas sementara yang lain banyak yang orientasi hubungan manusia. Kebanyakan pemimpin menunjukkan keseimbangan perilaku di antara keduanya. Berdasarkan hasil penelitian Dorwin Cartwright dan Alvin Zander, satu dimensi adalah berkaitan dengan pen capaian beberapa sasaran khusus kelompok dan yang lain adalah berkenaan dengan pemeliharaan atau penguatan kelompoknya sendiri". Kemudian Daniel Katz mengacu kepada dimensi gaya kepemimpinan sebagai orientasi pegawai dan orientasi produksi. Renis Likert menggunakan istilah berpusat kepada pegawai (empfoyez-centered) untuk menjelaskan perhatian yang diberikan kepada asepek manusia dalam anggota kelompok, dan istilah berpusat kepada tugas dob-centered) dalam pengem balian kepada penekanan atas pencapaian tujuan kelompok.
Sementara Ohio State Leadership Studies oleh Kantor Penelitian Bisnis pada tahun 1945, menyebutkan temuannya dengan istilah "inisiatif struktur", dan "pengakuan". Berkaitan dengan penggunaan istilah tersebut oleh Andrew Halpin menjelaskan perilaku pemimpin dari pengawas sekolah didefinisikannya sebagai berikut:
1) Inisiatif struktur, mengacu kepada perilaku pimpinan dalam memelihara hubungan antara dirinya dan anggopra kelompok dalam pekerjaan kelompok mereka dan mengusahakan untuk membangun pola pengertian yang jelas tentang organisasi, jaringan komunikasi, metode dan prosedur.
2) Consideration, mengacu kepada perilaku menggambarkan persahabatan, saling percaya, rasa hormat, dan kebaikan dalam hubungan antara pimpinan dan anggota kelompoknya Owens (1995:138).
Dengan demikian konsep kepemimpinan mengacu kepada mempengaruhi orang lain melalui interaksi sosial. Bennis dan Nanus, menjelaskan manajer adalah orang yang melakukan sesuatu dengan cara benar, dan pemimpin melakukan sesuatu yang benar".
Suatu konsep populer dari kepemimpinan, didukung dengan bertahun-tahun dari spekulasi filosofis dan usaha riset bahwa mereka adalah orang-orang yang berusaha dengan bakat tertentu atau karakteristik yang secara khusus sempurna bagi peran kepemimpinan mereka. Hal itu diyakini secara populer bahwa semisal bakat sebagai kecerdasan, imajinasi, stabilitas emosi menjadi kualifikasi individual untuk tugas kepemimpinan. Konsep ini tentu saja menyarankan bahwa orang yang menggunakan bakat ini harus dimanfaatkan sebagai potensi kepemimpinan.
Kepemimpinan berlangsung dalam beberapa jenis kelompok, dan fungsi kepemimpinan sangat penting dalam hubungan anggota kelompok. Tegasnya sebagai proses interaksi antara pemimpin dan kelompok memerlukan tugas penge tahuan umum yang digunakan dalam istilah kepemimpinan, yaitu kelompok, pemimpin dan perilaku pemimpin.
Dalam menangani kepemimpinan adalah penting meme lihara pemikiran dalam perbedaan antara kesatuan orang dia satu sisi dan kelompok di sisi lain. Kelompok didefinisikan sebagai; anggota dari sekelompok saling ketergantungan, mereka membagi dengan yang lain tentang nilai, keyakinan, sikap, pengetahuan. Saling ketergantungan diekspresikan melalui interaksi antara sejumlah anggota kelompok, seperti komunikasi, membagi, melakukan ritual dan seterusnya. Anggota kelompok membagi kepuasan dari kebutuhan individu dari bagian kelompok. Anggota kelompok membagi tujuan. Suatu kelompok sebagai satu unit, berusaha untuk mencapai suatu tujuan khusus atau sasaran. Agar tujuan tercapai maka setiap anggota kelompok harus berinteraksi dan harus mem bagi beberapa kepuasan kebutuhan mereka dari proses interaksi sebagaimana dari pencapaian tujuan itu sendiri.
Antara manajer dan pemimpin memiliki aktivitas dan fungsi berbeda. Menurut Nanus (1992:130), ada lima sudut pandang membedakan pekerjaan keduanya, yaitu:
1) Manajer berfokus kepada sistem dan struktur, pemimpin fokus kepada orang-orang,
2)Manajer melaksanakan pengawasan dan pemimpin mem bangun kepercayaan,
3)Manajer berpandangan jangka pendek, dan pemimpin memiliki perspektif jangka panjang,
4)Manajer menerima status-quo, pemimpin manantang nya,
5)Manajer adalah administrator- sedangkan pemimpin adalah innovator".
Dengan demikian kekuatan kepemimpinan terletak pada visi. Fungsi visi efektif memberikan keterkaitan antara hari ini dengan masa depan, melayani untuk kekuatan dan gerak pegawai menuju masa depan, memeberikan makna bagi kerja pegawai dan menyusun standard keunggulan organisasi". Tegasnya, visi mengaitkan hari ini dengan masa depan, mem perkuat orang dan memperkokoh komitmen, membangun makna terhadap pekerjaan, visi membangun standar keunggulan.

Sebagai tenaga fungsional tenaga kependidikan, keber adaan pengawas memberikan kontribusi besar dalam mencapai tujuan pendidikan secara efektif. Dengan demikian, kepemim pinan pengawas pendidikan dalam hubungannya dengan para guru dimaksudkan membantu guru memecahkan masalah pembelajaran, baik terkait dengan pelaksanaan kurikulum dalam pembelajaran maupun masalah pembinaan guru sebagai pekerjaan profesional.
Belakangan ini keberadaan pengawas dalam manajemen sekolah semakin dituntut untuk lebih efektif dalam menjalankan tugas-tugasnya. Sebagai suatu proses, supervisi adalah sebagai rangkaian keputusan, tindakan, dan interaksi serta hubungan yang berkelanjutan. Dengan kata lain, supervisi menjadi suatu proses kombinasi atau integrasi, prosedur, dan kondisi yang penuh pertimbangan dalam meninggikan efektivitas kerja individu dan kelompok guru (Alfonso, et al, 1982:3).
Berkaitan dengan proses supervisi, maka ada beberapa fokus pengawas sebagaimana dikemukakan Nurtain (1989:11), yang meliputi: (1) Supervisi yang memfokuskan pada administrasi, (2) Supervisi yang memfokuskan pada kurikulum, (3) Supervisi yang memfokuskan pada pengajaran, (4) Supervisi yang mem fokuskan pada hubungan manusia, (5) Supervisi yang memfokus kan pada manajemen, (6) Supervisi yang memfokuskan pada kepemimpinan ".
Persoalan utama selain pengawas tidak dapat memberikan tindakan lanjut dari penilaiannya terhadap kinerja guru, maka kewenangan para pengawas dalam melaksanakan pembinaan formal terhadap guru merupakan faktor yang banyak dipersoal kan teurutama karena kedudukannya dalam struktur organisasi birokratis Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten yang sangat lemah terutama karena posisinya hanya sebagai kelompok kerja semata. Tulisan ini mencoba menelusuri keberadaan pengawas dalam struktur organisasi dan birokratis.
Ditegaskan bahwa: leadership rôle in policy formation has a solidfoundation in pratice and is safety short ofusurfing a governing broad's prérogative in establishingpolicy"(Newtrom dan Davis, 2002:131). Di sini jelas sebenarnya bahwa peran kepemimpinan dalam mengembangkan kebijakan merupakan dasar yang kuat bagi pelaksanaan dan kemananan dari pencapaian tujuan pengelolaan organisasi. Itu artinya, ada tuntutan krusial dalam mewujudkan kepemimpinan yang penuh visi dan inspirasi bagi para guru sebagaimana dijalankan oleh para supervisor.
Visi merupakan tema penting dalam keunggulan kepe mimpinan pendidikan. Membagi visi harus merembes dalam kegiatan sehari-hari. Pemimpin menempatkan pernyataan visi dalam cara-cara terbentuk baik, membagivisi kepada teman sejawat pimpinan menyuruh kepada kegiatan yang teratur". Snyder, Down, Jr, dan Houghton, (1994:96) menjelaskan bahwa peran seorang pemimpin adalah hal menarik dalam suatu organisasi. Juga esensi komitmen diperlukan oleh pemimpin untuk merealisasikan visinya bagi organisasi. Pemimpin sebagai pribadi dengan visinya adalah orang yang melaksanakan kekuatan nilai dan keyakinan serta orang yang membangkitkan harapan dan keinginan untuk mengambil tindakan atas visinya".
Komitmen harus menentukan setiap interaksi guru dan pelajar setiap kata dan tindakan harus menyatu dengan visi, Sasaran mengalir kepada tindakan dalam kepemimpinan formal organisasi yang mempengaruhi bujukan, kejernihan, kejelasan, konsensus, komitmen berdasarkan tujuan sekolah di antara staf sekolah". Dijelaskan bahwa: "empowermwnt means giving cmployees more than the mere authority to do thejob" (1994:87). Dengan demikian, pemberdayaan staf dan pegawai berkenaan dengan pemberian kebebasan kepada pegawai untuk melakukan pekerjaan dengan kreatif penuh gagasan dan kemampuan yang maksimal mencapai kinerja tinggi.
Organisasi sekolah sebagai lapangan kerja atau tugas pengajaran yang profesional untuk para pengawas. Tugas pengawas adalah berkenaan dengan kualitas dari tingkah laku kepemimpinan. Di dalam sekolah bahwa ada pengaruh keefektifan secara menyeluruh di organisasi sekolah.
Bagaimanapun, tanpa kepemimpinan, organisasi berada dalam masalah yang serius karena mereka menjadi kurang hidup dan tidak efektif. Dalam konteks ini kepemimpinan dan keefektivan sekolah adalah "menciptakan hubungan. Hal ini bukanlah suatu keajaiban, kemudian bahwa pendidikan daripada kepemimpinan adalah penting sekali untuk dimengerti pihak pengelola organisasi dan keefektifan sekolah. Untuk pengawas, kepemimpinan adalah hal yang penting untuk meningkatkan prestasi siswa dan kreasi sebuah visi dan kesuksesan untuk program pendidikan yang menyeluruh.
Untuk itu, kepemimpinan supervisi adalah kepemimpinan pendidikan para pengawas yang berbasis kepada nilai, kepro fesionalan, visi dan perubahan. Hal ini ditempatkan pada gaya pengawas karena pengawas membawa paradigma membantu guru untuk berubah. Jadi jangan sampai pengawas lebih meng utamakan gaya otoriter, karena merasa berwenang menilai, mengevaluasi dan mengendalikan para guru sebagai pendidik yang berada di bawahnya. Dijelaskan Pierce dan Newstrom (2004:290) bahwa supervisi yang otoriter secara umum dicirikan oleh rasa memiliki kekuasaan yang luas dengan peran super visor atas kelompok kerja". Sedangkan supervisi dengan kepemimpinan demokratis dicirikan dengan membagi kekuasaan dan partisipasi pengambilan keputusan. Dalam kepemimpinan seperti ini, supervisi demokratis menempatkan kelompok kerja dengan cara yang sama dengan supervisor, tanggung jawab tersebar daripada terkonsentrasi pada pengawas.
Begitu pula keberadaan pengawas dengan pengaruh yang kuat terhadap kepemimpinan pada keefektifan sekolah memiliki titik pusat dari suatu jumlah guru dan pelajar-pelajar serta bagian daripada pengembangan sekolah yang efektif. Ada suatu kekuatan kepemimpinan antara kepemimpinan kepala sekolah dan keberhasilan/hasil siswa. Pada kenyataannya, dalam organisasi sekolah, efek kepemimpinan, menjadikan jalan guru memperhatikan lingkungan pekerjaan mereka, dan ia pada akhirnya menghasilkan suatu tindakan bagi prestasi siswa. Tujuan pokok pokok kepemimpinan terjadi ketika pemimpin mengerti kebutuhan dari sekolah itu dan keaktifannya meliputi di dalam kerja sekolah tanpa pemaksaan yang lebih terhadap para pegawai.
Perlu ditegaskan bahwa sebagai pemimpin maka pengawas harus pandai membicarakan sebuah visi dan menciptakan suatu semangat dalam organisasi sekolah bahwa kesatuan "partikel" untuk membentuk suatu lapangan umum dan menyusun pemikiran dan pembicaraan bahwa ini terjadi di dalam suatu situasi pengawasan di dalam pembelajaran di kelas dan totalitas aktivitas sekolah.
Kepemimpinan pendidikan hari ini membutuhkan kemampuan-kemampuan, pengetahuan, dan sikap adalah kesungguhan yang berbeda kemudian hanya dibutuhkan beberapa tahun yang lalu sementara sekarang zaman berubah.
Kepemimpinan dalam hal ini pengawas harus menjadi fasilitator dari kemajuan sekolah dan penjaga daripada perjanjian bersama memajukan sekolah.
Dapat ditegaskan bahwa kepemimpinan terhadap peng awas adalah dipertinggi ketika prose situ dipandang sebagai suatu fungsi lapangan Administrasi, kurikulum, dan pengajaran. Dijelaskan bahwa kepemimpinan, adalah integral untuk proses pengawasan karena dia melihat sebagai "tingkah laku langsung atau tidak langsung merupakan akibat pengaruh guru dan pengarahan bermuara kepada suatu hasil, belajar siswa.
Dijelaskan oleh (Beach dan Reinhartz, 2000) lebih lanjut, sebagai bagian pengawasan, kepemimpinan mempunyai banyak definisi berdasarkan pada sejarah sekitar dan pendapat dari pada teori dan penelitian. Bagaimanapun pendapat bahwa kepemimpinan meliputi seni dari pada penyebab kerelaan melewati penggunaan pengaruh persuasi/membujuk. Kepe mimpinan juga mempunyai pandangan pada bagian pem bawaan /ciri seseorang dan tingkah laku, pengaruh dan pola interaksi, peraturan dan posisi, dan dari persepsi yang lain .
Jelasnya, kepemimpinan adalah suatu fungsi dari organisasi dan hubungan di dalam suatu kelompok. Suatu yang komprehensif, pandangan orang-orang mendefinisikan dengan jelas bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mem pengaruhi, menghasilkan, dan bekerja dengan orang-orang di dalam suatu organisasi. Ini adalah suatu proses pandangan manusia, dan khusus ke arah motivasi secara perorangan, suasana organisasi, komplik perseorangan, pembangunan perorangan peningkatan produktivitas dari faktor manusia secara umum.
Seringkali dalam organisasi, istilah pimpinan dan manager (pimpinan) atau kepemimpinan dan pengaturan digunakan dan dipertukarkan penggunaannya.
Bennis dan Nanus (1997) memandang berbeda antara manager dan pemimpin. Manager adalah yang mengomandani sesuatu, yang memecahkan masalah, yang menggunakan procedure untuk memperoleh solusi, dan menimbulkan keyakinan bahwa sesuatu itu dilakukan sebagaimana mestinya. Mereka mengetahui bagaimana mendapatkan pekerjaan dan melakukan fungsi kerja itu dalam orientasinya dan memelihara untuk meneruskan atau memelihara visi dari apa yang dapat menjadi, dan apa yang organisasi dapat ciptakan; Mereka mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan menyatukan informasi, untuk melihat bagian daripada keseluruhan, dan membangun komitmen untuk membagi visi maupun misi.
Peranan penting manajer adalah mempercayakan pada kerjasama, menciptakan kepercayaan, menunjukkan bagaimana, membangkitkan semangat yang tinggi, kesalahan-kesalahan yang sulit, membuat pekerjaan menarik, mengambil dan mengenali prestasi kelompok dan menolong orang melakukan pekerjaan mereka lebih baik. Ketika penyusunan tingkah laku ini di dalam konteks dari manajemen pengawasan dan kepe mimpinan pengawasan (Beach dan Reinhartz, 2000), kualitas orang-orang terkemuka. Inilah yang termasuk ke dalam kualitas:
berbagai pendapat pakar kepemimpinan dan manajemen, sebagai berikut:
Suatu visi yang tinggi tetapi tujuan yang realitas suatu susunan bahwa memandu organisasi itu dan anggota anggotanya.
Kepercayaan pada orang dan jawaban yang tepat sering dan umpan balik yang tampak pada mereka seperti mereka gunakan kemampuan pribadi mereka untuk bekerja dengan efektif dengan yang lain.
Suatu kemampuan untuk berkomunikasi dengan guru dan yang lainnya.
Integritas karakteristik dengan kejujuran dan suatu kepatuhan mengarahkan pada tanggungjawab pribadi untuk tingkah laku mereka dan siap (suatu kepatuhan menjadi bantuan utama).
Suatu kemampuan untuk mendiaknosa, proses pilihan yang tepat dan procedure dan menerima risiko.
Suatu kemampuan untuk menyatukan upaya dengan tujuan.
Dalam konteks pengawas sebagai pemimpin adalah suatu usaha membangun sebuah pengikut karena mereka menguasai peraturan dari sejarah organisasi dimana organisasi memiliki dan dimana dia ingin untuk beranjak pergi. Dengan kembali menyatakan organisasi itu yang lalu siap berbicara dengan orang-orang maupun membaca visi dan susunan misi, hasil yang lengkap dalam visi itu adalah di bagi dengan anggota-anggotanya.
Suatu budaya mengembangkan sekitar sejarah dari organisasi, yang kembali memperkuat ritual, pahlawan/kepah lawanan dan perayaan. Budaya itu membantu untuk mem bangun suatu jaringan yang informal anggota-anggota organisasi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa "pemimpin yang penyelidikan sikap terbuka, membicarakan masalah dan solusinya, dan tanggung jawab umum akan kerativitas pengembangan, rasionalitas dan kolaborasi di dalam bekerja dari pegawai serta pembelajaran pada anak-anak" .
Visi kepemimpinan membuat suatu ukuran antara kenyataan dan yang ideal karena orang untuk bekerja sama untuk menutup kerenggangan- Perjuangan ini dengan apakah dan apa yang bisa menjadi dinamik antara misi dan visi. Misi itu adalah sikap perencanaan untuk menciptakan suatu visi yang nyata. Untuk itu hal lain dari pengawas harus menjawab pertanyaan, Apakah visi saya? Di dalam perorangan, profesional, dan manfaat organisasi", mereka lebih lanjut menuliskan bahwa "Seorang pengawas tanpa suatu visi tidak dapat memiliki suatu misi yang efektif, "sewaktu" seorang pengawas dengan suatu visi dan tanpa misi akan sedikit dalam penyelesaian tugasnya. Kemampuan dari pengawas untuk menciptakan visi yang efektif boleh jadi pada akhirnya memberikan mekanisme untuk kembali menghubungkan sekolah kepada publik bahwa sering dicabut hak untuk memilih dan menjauhkan diri dari dunia pendidikan.
Secara faktual dan ideal, pengawas pendidikan merupakan tokoh penting dalam membantu guru memperbaiki kemampuan para guru dalam melaksanakan kurikulum pendidikan yang diobservasi dari pembelajaran. Untuk itu kepemimpinan peng-awas dalam interaksinya dengan para guru menjadi faktor penentu dalam mengubah perilaku guru dan sikap profesionalnya melaksanakan kurikulum sebagaimana dapat berwujud pem belajaran yang efektif. Karena itu kekuatan kepemimpinan pengawas adalah terletak pada visi yang menentukan pandangan pengawas tentang masa depan yang dituju dalam pembelajaran dan perbaikan pendidikan. Hanya pengawas yang visioner dan profesional dan demokratis akan mampu melaksanakan tugas kepengawasan membantu guru memper baiki kemampuan melaksanakan administrasi, pembelajaran dan pelaksanaan kurikulum melalui teknik supervisi yang benar, baik kunjungan sekolah, observasi kelas, konperensi kasus, maupun teknik lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media