Jumat, 17 Agustus 2012

Manajemen Lembaga dan Manajemen Pembelajaran

Manajemen Lembaga dan Manajemen Pembelajaran Berkaitan Dengan Pendidikan Agama Islam di SMA dan SMK
a. Manajemen lembaga
Tujuan penyelenggaraan pendidikan menengah umum (SMU) dan (SMK) adalah untuk mempersiapkan peserta didik dalam menuju pendidikan tinggi, karena itu fungsinya lebih pada penyiapan siswa dalam kerangka akademik serta dasar–dasar pengetahuan sebagai landasan kuat untuk tumbuhnya sikap dan moral sebagai ilmuan[1]. Dalam  Islam, pendidikan berasal dari kata “tarbiyah” dan bahasa berasal dari bahasa Arab[2], merupakan proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya; proses tersebut dilakukan melalui pendidikan sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.
Manajemen menurut  Mary Parker Follet " The art of Getting things Done Through People" yang artinya adalah sebagai proses pencapaian tujuan melalui pendayagunaan sumberdaya manusia dan material secara efisien. Manajemen yang berkenaan dengan pendayaan, sebagai contohnya di sekolah, hal ini tentunya menjadi alternative yang paling tepat untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan memiliki keunggulan tinggi.[3]Manajemen berasal dari kata " managio" yaitu pengurusan atau "managiare" dalam artian usaha melatih dan mengatur langkah-langkah. Biasanya, manajemen diartikan sebagai ilmu, kiat,  dan profesi.[4] Menurut Dale, struktur itu adalah mekanisme organisasi. Pada struktur itulah ditemukan apa yang harus dikerjakan setiap personalia organisasi  dan akan terlihat jelas  implementasinya dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari. Manajemen dalam prinsifnya adalah integrasi dan penerapan ilmu serta pendekatan analisa yang dikembangkan oleh berbagai disiplin ilmu. Tiap organisasi ataupun lembaga memerlukan pengambilan keputusan, pengorganisasian aktivitas, penanganan manusia, pembagian tugas  dan wewenang, evaluasi prestasi yang mengarah kepada sasaran kelompok yang semuanya ini sebagai aktivitas manajemen. Inti dari manajemen itu sendiri adalah leadership yaitu kemampuan untuk menggerakkan orang-orang untuk mengikuti pemimpin. Sebagaimana falsafah managemen mengatakan bahwa suatu keseluruhan atau pengetahuan dan kepercayaan yang merupakan dasar yang luas guna mendeterminasikan pemecahan-pemecahan sejumlah problema dalam sebuah lembaga organisasi.
·         Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah
Sesuai dengan aspirasi berbagai kalangan masyarakat, maka proses pembentukan lembaga pembantu di sekolah, maka dengan hadirnya Dewan pendidikan dan Komite Sekolah akan membantu pensosialisasian program dengan perencanaan yang matang. Agar program sosialisasi dapat dilaksanakan di sekolah.[5] 
Keberadaan Dewan Pendidikan harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, kehadirannya harus memperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada. Adapun peran yang dijalankannya sebagai berikut.
  1. Pemberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan.
  2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan.
  3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan.
  4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat.
b. Manajemen Pembelajaran
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa manajemen sangat perlu dan menentukan dalam proses belajar dan mengajar. Kenyataan tersebut tentunya menunjukkan bagi kita bahwa peran managemen semakin diperhitungkan dalam membangun pendidikan yang bermutu disekolah. Pendidikan dan latihan selalu cenderung lebih tergantung pada penemuan sains dan oleh karena proses ajar-mengajar telah ditekankan penting seni dan keterampilan. Secara tradisional, organisasi dipandang sebagai cara mengatur sumber-sumber untuk mencapai sejumlah tujuan yang telah ditetapkan.
Selanjutnya, untuk menentukan tujuan pembelajaran sangat perlu diketahui bagaimana sebenarnya bentuk-bentuk prinsif dalam belajar yang diantaranya adalah :
  1. Hal apapun yang dipelajari oleh murid, maka ia harus mempelajari sendiri; dan tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya
  2. Setiap murid belajar  menurut tempo (kecepatan)nya sendiri, dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar
  3. Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement)
  4. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkin belajar secara keseluruhan lebih berarti
  5. Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia harus lebih termotivasikan untuk belajar, dan menginagi secara baik.
Sehubungan dengan waktu yang ditetapkan dan kemampuan guru sebagai pengelola selalu terbatas, maka para tenaga pengajar sedapat mungkin mengkonsentrasikan terhadap pelaksanaan pekerjaan dengan meniadakan peranannya yang unik dalam pengoraganisasian sebagai pengelola sumber belajar. Dengan demikian dimungkin untuk mengisolasikan dan mengidentifikasikan empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan tenaga pengajar sebagai manager yang dianataranya adalah            :
  1. Merencanakan, ini adalah pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar.
  2. Mengorganisasikan, guru berperan untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang  lebih efektif, efisien dan ekonomis.
  3. Memimpin, guru bertugas sebagai motivator untuk mendorong dan menstimulisasikan murid-muridnya sehingga dapat siap untuk mewujukan tujuan belajar
  4. Mengawasi, guru bertugas untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengoranisasikan dan memimpin untuk mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Jika tujuan belum dapat dicapai, maka guru harus menilai dan mengatur kembali situasi dan bukan mengubah tujuannya. [6]




 










Gambar skema : Empat fungsi "guru-mamajer dan " training-manajer" yang saling berhubungan.

Menurut Harjanto, perencanaan yang komfrenshif dapat diperoleh, maka seyogianya dilaksanakan dalam 6 (enam) tahaf proses yaitu           :Pertama, tahap perencanan meliputi menciptakan,mengadakan badan atau bagian yangbertugas dalam melaksanakan fungsi perencanaan, menetapkan prosedur perencanaan, mengadakan reorganisasi struktural internal administrasi agar dapat berpartisipasi dalam proses perencanaan serta proses implementasinya dan menetapkan mekanisme serta prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisa data yang dipergunakan dalam perencanaan. Kedua, tahap perencanaan awal yang terdiri dari aktivitas-aktivitas: (1) Tahap diagnosis yang merupakan membandingkan out put yang diharapkan dengan apa yang telah dicapai sekarang. Tahap ini bertujuan mengetahui apakah rencana telah terlaksana memadai dan relvan. (2) Tahap formulasi rencana, merupakan kebijakan yang memberikan arah kepada upaya memperbaiki kelemahan dan kekurangan suatu rencana. Kebijakan itu perlu dirumuskan secara rinci sehingga merupakan kerangka dasar dalam membuat keputusan yang lebih kecil dan lebih terperinci. Kegiatan merumuskan kebijakan itu dengan menamai formulasi kebijakan dan merupakan fungsi politisi dari mereka yang berwenang dalam organisasi (3)Penilaian kebutuhan merupakan tindak lanjut sesudah kebijakan ditetapkan[7]

C. Metode-metode Pembelajaran pendidikan Islam di SMU & SMK

1. Metode Ceramah
Pengertian dari metode ini yaitu cara menyampaikan suatu pembelajaran tertentu dengan jalan penuturan secara lisan kepada anak didik. Ciri yang menonjol dalam meode ceramah, dalam pelaksanaan pengajaran di Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah peranan guru tampak sangat dominant ketika menyampaikan bahan-bahan pelajaran, penguasaan kelas, mengorganisasikan kegaitan-kegiatan pembelajaran.
2. Metode Diskusi atau Musyawarah
Metode diskusi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah, yang mungkin menyangkut kepentingan bersama, dengan jalan musyawarah untuk mufakat memperluas pengetahuan dan cakrawala pemikiran. Sedangkan metode diskusi yaitu cara bagaimana menyajikan bahan pelajaran melalui proses pemeriksaan dengan teliti terhadap suatu masalah tertentu dengan jalan bertukar pikiran, dan memeriksa dengan teliti hubungan yang terdapat dalam setiap masalah yang sedang dibahas. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan membiasakan anak didik untuk mencari jawaban yang benar dan setepat-tepatnya.
3. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Melalui metode ini anak didik akan diperkenalkan dengan alat-lalat peraga (memeragakan), untuk memperjelas suatu pengertian, atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan dan jalannya suatu proses pembutan sesuatu kepada siswa. Metode demostrasi ini dapat dilakukan ketika menyampaikan pelajaran seperti, fiqh ( belajar tata cara berwu'dhu, sembahyang dan lain sebagainya).  Sedangkan metode eksperimen dapat menjelaskan dan menentukan kadar tanah yang akan dipakai ketika melaksanakan tayammum.
4. Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan ( Role Playing Methode)
Sosiodrama merupakan metode mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Pada metode bermain peranan, titik tekannya terletak pada keterliban emosional dan penagatan panca indera ke dalam suatu masalah yang secara nyata dihadapi. Metode ini dipakai di SMU dan SMK dikarena perlunya melatih dan menanamkan kesetiakawanan dan rasa tanggung-jawab terhadap siswa ketika siswa mendapat persoalan dan masalah secara pribadi ataupun ketika bekelompok.
5. Metode Kelompok Kerja
Pemakaian metode ini dilaksanakan dalam kelompok kerja siswa yaitu dengan menyajikan materi dimana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau grup tertentu untuk menyelesaikan tugas yang telah ditentukan dengan cara bersama-sama dan bergotong-royong. Metode ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan siswa dan rasa toleransi serta menumbuhkan rasa percaya diri ketika mengapresiasiakan kemampuan diantara kelompoknya.[8]
F. Keterkaitan Manajemen Lembaga dan Manajemen Pembelajaran dengan pendidikan Islam di SMU dan SMK

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa manajemen sangat berperan penting dalam menata dan mengorganisasikan program-program dalam sekolah sehingga target yang ditetapkan dapat tercapai dengan baik. Penerapan manajemen dengan strategis diformulasikan dengan (1) menetapkan tugas utama yang dengan melibatkan perangkat-perangkat sekolah (2) melakukan assessment lingkungan sekolah yaitu dengan memperhatikan kondisi yang terjadi dan kemungkinan-kemungkinan perubahan yang akan terjadi termasuk perkembangan organisatoris. (3) Menetapkan arah dan sasaran[9] .
Melihat melihat uraian tentang manajemen dan lembaga keorganisasian di sekolah, seperti sekolah menengah Umum ( SMK) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) nampak jelas bahwa adanya keterikatan dan hubungan antara manajemen lembaga dan pembelajaran pendidikan Islam di SMU dan SMK. Hal tersebut dapat dilihat pada :
    1. Visi Pembelajaran[10]
    2. Misi Pembelajaran
    3. Tujuan Pembelajaran
Melihat 3 (tiga) tujuan pendidikan tersebut dan sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD tahun 1945 pasal 3 tentang pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokrasi serta bertanggungjawab.[11]Kemudian diterangkan kembali pada pasal 12 Bab V bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan sesuai dengan pendidikan yang beragama.
Pendidikan agama Islam yang diajarkan disekolah sebagaimana dengan keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan bahwa di sekolah-sekolah negeripendidikan agama Islam diajar selama 120 menit (2 jam) dalam setiap minggu[12].
Dari berbagai uraikan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan nasional telah dimanajemen, baik secara lembaga dan pembelajaran tentang menempatkan pendidikan agama Islam di sekolah SMU dan SMK juga sekolah-sekolah yang sederajatnya. Pendidikan dan pembelajaran di sekolah SMU dan SMK disesuaikan dengan agama dan kepercayaan masing-masing para siswa.
Daftar Pustaka
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia .Jakarta: Prenada Media, 2003
Depertemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia,Undang  Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2003: Tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta, 2003
Haidar Putra Daulay,Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta:Kencana, 2005
Harjanto,Perencanaan pengajaran: Komponen MKDK Materi Disesuaikan dengan Silabi Kurikulum Nasional IAIN(Jakarta:rineka Cipta, 2005
Ivor K. Davies,Pengelolaan Belajar: Seri Pustaka  Teknologi Pendidikan No.8 .Jakarta: Rajwali Pers, 1986
Syaiful Sagala,manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan:Membuka rungan kreativitas, inovasi dan perdayaan potensi sekolah dalam system otonomi sekolah.Bandung:ALPABETA, 2006
_______Administrasi Pendidikan Kontemporer.bandung:AlPABETA, 2005
Tayar Yusuf dan Syaiful Anwat,Metodologi Mengajar Agama dan Bahasa Arab(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1995
www.Google.Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Jalan R.S. Fatmawati, Cipete - PO.BOX  12001, Jakarta Selatan
______depdiknas


               [1]www.Google.Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Jalan R.S. Fatmawati, Cipete - PO.BOX  12001, Jakarta Selatan
[2]Dalam literatur Arab, selain istilah tarbiyah juga terdapat istilah-istilah  ta’dib, ta’lim, tadris, tadzkiyah dan tadzkirah. Secara keseluruhan, semua istilah tersebut menghimpun seluruh kegiatan yang terdapat dalam pendidikan, yaitu membina, memelihara, mengajarkan, menyucikan jiwa dan mengingatkan manusia terhadap hal-hal yang baik. Lebih lanjut lihat Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 9.
[3]Syaiful Sagala,manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan:Membuka rungan kreativitas, inovasi dan perdayaan potensi sekolah dalam system otonomi sekolah(Bandung:ALPABETA, 2006),h.48
[4]Ibid,h.50
[6]Ivor K. Davies,Pengelolaan Belajar: Seri Pustaka  Teknologi Pendidikan No.8 (Jakarta: Rajwali Pers, 1986),h.35-36
[7]Harjanto,Perencanaan pengajaran: Komponen MKDK Materi Disesuaikan dengan Silabi Kurikulum Nasional IAIN(Jakarta:rineka Cipta, 2005),h.17.Kebijakan yang ditetapakan  tersebut meliputi (a) Jumlah orang yang perlu mendapatkan layanan dlam merencanakan syarat-syarat kualitatifnya (b) Jumlah dan besarnya lembaga atau program yang diperlukan; (c) Jumlah, kompensasi dan syarat pekerjaan dari seorang yang akan mengorganisasikan dan melaksanakan rencana tersebut (d) jumlah dan kualitas bahan, sarana dan alat-alat yang diperlukan (e)Jumlah dan kulaitas mobilier dan alat-alat lainnya (f)jumlah dana yang perlukan untuk haji, upah dan beasiswa (g) jumlah dan kualitas laying pendukung dan sebagaimanya. Pada tahap ini, perencanaan baru pada tiap tahap investarisasi sumber manusia dan material yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan yang ada. Dalam perhitungan biaya, berdasarkan data biaya tahun sebelumnya, tiap butir kebutuhan dihitung biayanya dengan memperhitungkan  fluktuasi kerja. Jika perhitungan biaya telah selesai, perencanaan dapat mengetahui, jumlah keseluhan biaya yang dibutuhkan untuk keseluruhan program. Penentuan target, merupakan aktivitas perencanaan untuk mengkaji dan meneliti kebutuhan yang telah diidentifikasikan dan menetapkan prioritas program serta menetapkan tingkat pencapaian yang realistic dari tujuan yang ditetapkan
[8]Tayar Yusuf dan Syaiful Anwat,Metodologi Mengajar Agama dan Bahasa Arab(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1995),41-58. (6) Metode Tanya jawad yaitu : suatu cara menyamapaikan materi pelajaran dengan jalan guru mengajukan suatu pertanyan-pertanyaan kepada siswa untuk dijawab atau siswa boleh memberikan pertanyaan kepada siswa lainnya dan guru akan mengarahkannya apabila pertanyaan tidak tepat sasaran. (7) Metode Latihan siap (drill) pengertiannya sering dikacaukan dengan istilah "ulangan". Padahal maksudnya keduanya berbeda. Latihan siap simaksudkan agar pengetahuan kecakapan siswa tertentu dapat menjadi miliknya dan betul-betul dikuasai oleh siswa. (8)Metode pemberian tugas (resitasi) yaitu siswa mengutip atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, kemudian siswa belajar dan berlatih sendiri sampai siswa menyelesaikan tugasnya. Metode ini sering dikenal dengan istilah PR (pekerjaan rumah) (9) Sistem regu (team teaching) yaitu cara menyajikan bahan pelajaran dimana dua orang guru atau lebih bekerjasama untuk mengajar suatu kelompok siswa (10) Metode insersi (sisipan) merupakan metode yang baru diperkenalkan dengan menyajikan bahan atau materi pelajaran dengan cara;inti sari ajaran-ajaran Islam atau jiwa agama/emosi religius disisipkan di dalam mata pelajaran umum (11) Metode Menyelubung atau membungkus dengan cara menyajikan bahan/materi pelajaran agama atau hikmah keimanan dan sebagainya, sengaja dibungkus atau diselubungi dengan bentuk lain, misalnya kisah cerita atau dengan ilmu lain seperti sejarah, ilmu sekuler
[9]Sagala,manajemen Strategik,h.132
[10]Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer(bandung:AlPABETA, 2005),h.126Menurut Osborme dan Gaebler reinventing pemerintahan wirausaha tentang tekhnis manajemen pembelajaran disekolah yaitu : Mengarahkan ketimbang mengayuh, memberi wewenang ketimbang melayani, memotivasi persaingan kedalam bentuk pelayanan, pemerintahan yang dengan berbagai misi, pemerintahan yang berorientasi kepada hasil, memenuhi kebutuhan peserta didik bukan hanya peserta didik, menghasilkan dan bukan membelanjakan, mengantisivasi, mengangkat perubahan melalui pasar untuk memenuhi dan mengikuti berbagai perubahan
[11]Depertemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia,Undang  Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2003: Tentang Sistem Pendidikan Nasional(Jakarta, 2003),h.8
[12]Haidar Putra Daulay,Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta:Kencana, 2005),h.38 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar