Kamis, 30 Agustus 2012

HUBUNGAN KECERDASAN INTELEKTUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PRESTASI BELAJAR SANTRI DIYAH

Kecerdasan Intelektual Santri Diyah
Proses pembelajaran adalah suatu kegiatan mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai dari pendidik kepada peserta didik. Setiap proses pembelajaran akan bermuara pada prestasi belajar. Prestasi belajar dapat diketahui melalui penilaian yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan mengetahui keberhasilan program pengajaran yang dilakukan guru.
Keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan oleh lembaga pendidikan dalam proses pembelajaran  dapat dilihat dari tiga ranah konstruk prilaku  yaitu, kognitif, afektif dan psikomotorik sebagaimana dirumuskan oleh Benjamin S. Bloom. Namun dalam pelaksanaannya keberhasilan ketiga ranah ini biasanya dapat dilihat dari hasil belajar atau prestasi belajar siswa. 

            Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor yang kompleks, bila disederhanakan, faktor-faktor yang mempengaruhinya terdiri dari: (1) bahan /input yang harus dipelajari, (2) faktor lingkungan, (3) faktor instrumental, (4) faktor kondisi individu yang belajar.[1]
            Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh bahan yang dipelajari, karena masing-masing bahan memiliki karakter-karakter khusus yang menuntut cara belajar yang berbeda-beda. Perangkat keras dan lunak yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan pengajaran ikut pula menentukan derajat prestasi belajar yang dapat dicapai individu.  Faktor lingkungan fisik dan sosial juga mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar. Di samping itu juga, kondisi individu  merupakan faktor penting dalam kegiatan belajar yang mempengaruhi prestasi belajar, karakteristik individu yang berbeda menciptakan prestasi belajar yang berbeda pula. Kondisi ini dapat dibedakan antara kondisi fisik dan kondisi psikis. Kondisi fisik antara lain kondisi kesehatan secara umum yaitu kondisi panca indera seperti mata dan telinga. Kondisi psikis antara lain meliputi kecerdasan intelektual dan  kecerdasan emosional, bakat, minat, motivasi, perhatian, kepribadian, kematangan dan lain-lain.
 Faktor-faktor tersebut di atas seperti bahan, sarana, lingkungan, kecerdasan emosional, faktor kecerdasan intelektual individu juga mempengaruhi prestasi belajar. Kecerdasan intelektual dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut Crow dan Crow mencatat bahwa perbedaan kecerdasan intelektual dipengaruhi oleh sedikitnya dua faktor. Dari penelitian para sarjana biologi dan psikologi, ia mengemukakan bahwa warisan biologis atau pembawaan heriditas memberi pengaruh yang berarti  pada kecerdasan intelektual. Disamping itu faktor pengalaman atau lingkungan mempunyai arti penting dalam mengembangkannya. Kemungkinan terjadi bahwa faktor pembawaan yang mempengaruhi kecerdasan intelektual akan memperlihat diri lebih tajam selama tahun-tahun permulaan sekolah sampai usia 12 tahun, selama faktor – faktor pengalaman dari lingkungan belum sedemikian kuat sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadapnya. Melihat keterkaitan erat faktor pembawaan dan pengalaman atau lingkungan, sulit untuk menyangkal bahwa kecerdasan intelektual tidak ditentukan oleh kedua faktor tersebut Crow[2].
Hendaknya patut diketahui bahwa prestasi belajar yang dapat dicapai oleh peserta didik selalu paralel dengan tingkat kecerdasan intelektualnya. Berbagai studi telah dilakukan para ahli psikologi juga membuktikan bahwa individu yang cerdas akan memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi dibanding dengan yang dapat dicapai oleh individu yang kurang cerdas dalam situasi belajar yang sama.
            Penelitian yang dilakukan oleh Lamson membuktikan bahwa prestasi belajar yang dapat dicapai setiap individu berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan intelektualnya. Kesimpulan yang diperoleh Lamson dari penelitian terhadap siswa-siswa berbakat dalam ujian yang diselenggarakan oleh New York Regent membenarkan pendapat umum bahwa anak cerdas dapat memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi yang dapat dicapai anak kurang cerdas dalam situasi belajar yang sama.[3]
            Thorndike dan Hagen mencoba menyimpulkan hubungan tes kecerdasan intelektual dengan prestasi belajar. Kesimpulan ini didasarkan pada ritus penelitian mengenai tes kecerdasan intelektual dan prestasi belajar, yaitu: (1) Ada korelasi yang kuat antara skor tes kecerdasan intelektual dengan prestasi harian di kelas. Angka korelasi yang ditemukan menunjukkan antara 0,50 sampai dengan 0,60, (2) Ditemukakan korelasi tes kecerdasan intelektual dengan prestasi belajar yang lebih tingggi disekolah dasar dari pada di sekolah menengah, dan kesimpulan yang sama juga terjadi di sekolah menengah lebih tinggi dari pada perguruan tinggi, (3) Keberhasilan belajar di jenjang pendidikan sebelumnya mempunyai korelasi dengan prestasi belajar di jenjang  pendidikan berikutnya sama atau lebih tinggi dibanding dengan skor tes kecerdasan intelektual, (4) Tes kecerdasan intelektual berkolerasi lebih tinggi dengan tes prestasi belajar standar dari pada dengan nilai harian dikelas, (5) Tingkat korelasi antara tes kecerdasan intelektual dengan prestasi belajar lebih ditentukan oleh jenis bidang studi[4].
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan intelektual mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar siswa. Dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran mutlak diperlukan kecerdasan intelektual.
Keberhasilan dan prestasi yang diraih oleh siswa baik dalam konteks pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya  dipengaruhi oleh faktor kecerdasan intelektual saja tetapi faktor kecerdasan emosioanal pun ikut menentukan, hal ini terbukti banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual  belajar  pada orang yang memiliki kecerdasan emosional. Kecerdasan emosioanal dapat diartikan kepiawaian, kepandaian dan ketepatan seseorang dalam mengelola diri sendiri dalam berhubungan dengan orang lain di sekeliling mereka dengan menggunakan seluruh potensi psikologis yang dimilikinyanya seperti inisiatif, empati, adaptasi, komunikasi, kerjasama dan kemampuan persuasif yang secara keseluruhan telah mempribadi dalam diri seseorang.[5]
Dalam rangka mengarahkan emosi-emosi tersebut untuk menjadi potensi yang positif, maka perlu adanya upaya ataupun langkah-langkah yang dilaksanakan. Upaya tersebut akan mampu melahirkan kecerdasan emosional dari diri seseorang, dan akhirnya dapat  mempengaruhi prestasi belajar siswa. Kecerdasan emosional (Emotional Quatient) itu dalam wacana Alquran dikenal dengan konsep akhlakul karimah.[6]
Kecerdasan intelektual (IQ) biasa dipandang sebagai indikator utama kesuksesan seseorang, tetapi sekarang IQ ternyata tidak satu-satunya alat  dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang, orang-orang yang  IQ nya  sedang-sedang saja sering mampu mencapai kesukses  yang luar biasa, disebabkan EQ nya tinggi. Bagi mereka yang IQ  dan  EQ nya   tinggi merupakan aset yang sangat berharga. Bila seseorang EQ nya rendah, maka dia kurang bisa mencapai kesuksesan pribadi.[7]
Menurut Goleman prosentase kontribusi IQ dalam menunjang kesuksesan seseorang tak lebih dari 20% ; sisanya yang 80%  didukung oleh faktor- faktor lainnya, termasuk kecerdasan emosional.[8] Lebih lanjut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Goleman bahwa peran IQ dalam keberhasilan seseorang hanya menempati posisi kedua sesudah kecerdasan emosional dalam menentukan peraihan prestasi puncak dalam pekerjaan.[9] Demikian juga menurutnya proses belajar tidak berlangsung terpisah dari perasaan anak (emosi) Dalam proses belajar, kemahiran emosi sama pentingnya dengan petunjuk mempelajari matematika dan membaca.[10]
Menurut Damasio yang dikutip oleh Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence[11], otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya keterlibatan otak nalar. Dalam artian tertentu kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua kecerdasan yang berlainan: kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Lebih lanjut ia menekankan keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya oleh IQ, tetapi kecerdasan emosional pun turut  berperan, sungguh intelektualitas tak dapat bekerja  dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional.
Siswa merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang ada di Aceh Utara yang didalamnya terdapat dua madrasah yaitu madrasah Tsanawiyah dan madrasah Aliyah, dalam operasionalnya mengacu kepada kurikulum salaf dan khalaf. Salaf dalam pengertian di sini adalah mengacu pada kurikulum yang digunakan oleh dayah-dayah salafi (tradisionil) yang ada di Aceh, sedangkan khalaf ialah dalam pelaksanaan pendididkan madrasah  menggunakan kurikulum Departemen Agama. Dayah ini menerapkan sistem asrama dengan jadwal belajar pagi mulai jam 6.00 sampai 7.00 belajar mufradat, jam 7.30 sampai dengan 13.00 wib (belajar di madrasah), jam 17.00 sampai dengan 18.00 wib belajar mandiri, jam 19.30 sampai dengan  22.00 wib belajar kitab kuning (salaf),
Siswa dalam pencapaian tujuan pendidikannya tetap mengacu pada tiga ranah pendidikan yakni, ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik, dalam pencapaian ketiga ranah  ini tentunya tidak terlepas dari pengaruh kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional siswa, penilaian kedua hal ini dapat dilihat dari hasil belajar baik melalui evaluasi maupun sikap dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pengamatan sementara penulis dalam mencapai prestasi peserta didik  erat hubungannya dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional yang dimiliki mereka, mengingat jadwal belajar yang begitu padat hubungan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dalam meraih prestas jelas ada. Namun untuk mengetahui seberapa besar hubungan tersebut, Penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut apa yang lebih dominan dalam pencapaian prestasi dimaksud, kecerdasan intelektual atau kecerdasan  emosioanal.
Dari uraian diatas menunjukkan betapa pentingnya peran kecerdasan inteletual dan kecerdasan emosional dalam kesuksesan proses pembelajaran. Jika hanya menggunakan kemampuan intelektual saja tanpa memperhatikan kemampuan emosional cenderung dalam mengatasi masalah bersikap analitis dan tidak mempertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan. Jadi kedua kecerdasan tersebut pada prinsipnya sangat mempengeruh kesuksesan belajar.
Beberapa informasi dan pengalaman di atas tentu saja tidak dapat diterima begitu saja, sehingga penelitian ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, melalui penelitian yang berjudul “Hubungan Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar siswa”.    


[1]Sumardi  Suryabrata, Psikologi Belajar Dalam Kumpulan Materi Dasar Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 1984-1985) dikutip oleh Tien Supartinah, Kontribusi Inteligensi dan self Esteem terhadap  Prestasi Akademik Mahasiswa Pendidikan Dunia Usaha FKIP-UNS, Jurnal Pendidikan, No. 12,  h. 205.
[2] Laster D.Crow & Alice Crow, Education Psyicology, terj. Z. Kasijan, Psikologi Pendidikan (Surabaya: Bina Ilmu, 1984, h. 205.
[3]E.E. Lamson, “High School Achievement of 56 Gifted Children“, Journal of Genetic Psyichology, 47/1935, h. 233-238, dikutip dalam Lester D.Croww & Alice Crow, Educational Psyichology, terj. Z.Kasijan, Psikologi Pendidikan  (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), h. 233.
[4]Robert T.Thorndike & Elizabeth Hagen, Measurement and Evluation in Psychology and Education, 2nd Edition (New York: John Wiley & Sons inc, 1962), h. 246-247.
[5]Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional Untuk Mencapai Prestasi (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), h. 9.
[6] Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual, (Jakarta: Arga, 2001),h.xii
[7]Patricia Patton, EQ- Pengembangan Sukses Lebih Bermakna, (tp. Mitra Media,2002),h. 7.
[8]Daniel Goleman, Emotional Intelligence  (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 44.
[9]Daniel,  Emosional, h 7.
[10]Ibid., h. 372.
[11]Daniel, Emotional, 38.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar