Diberdayakan oleh Blogger.

Faktor Psikologik dan Kadar Stres

Stres mungkin merupakan fakta dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana kita menghadapi stres dapat menentukan bagaimana cara kita mengatasi stres tersebut.

Reaksi seseorang terhadap stres bersifat individual, tergantung dari faktor psikologik seperti makna yang diterapkan pada stres yang sedang dihadapinya. Misalnya, kondisi kehamilan yang merupakan kejadian yang berarti dalam kehidupan suatu perkawinan sangat ditentukan oleh seberapa besar hasrat kedua pasangan akan kehadiran anak sehingga kehamilan akan menjadi stres yang negatif bila kedua pasangan belum memiliki hasrat yang cukup untuk punya anak, tentunya.

Namun, stres tersebut menjadi sangat positif bila dihadapi oleh pasangan perkawinan yang sudah bertahun berharap memiliki anak kandung. Faktor psikologik lainnya yang juga berperan dalam menjadikan stres menjadi lebih ringan adalah bagaimana gaya penyelesaian masalah seseorang, kekerasan pribadinya, optimisme, dukungan sosial yang diperolehnya.

Gaya penyelesaian masalah

Apa yang kita lakukan saat kita menghadapi masalah yang sulit? Gaya penyelesaian yang manakah yang cocok dengan pribadi kita?

Berpura-pura tidak ada masalah adalah gaya seseorang dalam penyelesaian masalah dengan cara melarikan diri dari kenyataan/masalah. Melarikan diri dari masalah adalah gaya penyelesaian yang bermuatan emosi, dengan cara mengabaikan keberadaan stres, berbuat seolah tak terjadi stres atau keluar dari situasi yang menyebabkan stres.

Dengan demikian, seseorang merasa bahwa dirinya tidak menghadapi stres tersebut. Tentu saja gaya ini tidak membuat orang tersebut keluar dari masalahnya, tetapi justru kondisi mentalnya sama dengan orang yang terkena penyakit yang serius, tetapi tidak berusaha mendapatkan obat untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut.

Dalam gaya penyelesaian yang terfokus pada masalah, seseorang akan dengan sendirinya mencermati stres yang dihadapi dan kemudian berupaya mendapatkan cara yang terbaik dalam mengatasi stres akibat penyakit yang dideritanya. Mereka dapat memodifikasi reaksi terhadap stres tersebut sehingga secara bertahap menurunkan kadar stres menjadi stres yang tidak lagi memberikan ancaman yang serius bagi dirinya.

Kedua jenis gaya dasar dalam penyelesaian masalah itu dapat diterapkan pada cara seseorang menghadapi penyakit yang dideritanya.

Bila seseorang menolak kenyataan akan penyakit yang diderita, variasi perilaku sebagai akibat dari penolakan tersebut adalah sebagai berikut ini:
  • Gagal mengenali gejala penyakit yang sebenarnya sangat serius akibatnya,
  • Meminimalisasikan emosi negatif yang disebabkan oleh penyakit yang diderita
  • Mengabaikan informasi yang mengancam tentang penyakit yang diderita.

Pengabaian penyakit yang diderita sangat membahayakan kesehatan kita, terutama bila sikap tersebut mengarahkan diri kita untuk tidak patuh terhadap perawatan medis yang disarankan dokter yang merawatnya.

Terdapat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang memiliki gaya penyelesaian dengan cara menolak kenyataan yang dihadapi, seperti mencoba untuk tidak memikirkan dan membicarakan penyakit yang dideritanya, ternyata memperlihatkan peningkatan progresif dari penyakitnya bila dievaluasi dibandingkan dengan orang yang lebih mendapatkan konfrontasi langsung tentang penyakit yang dideritanya. (Eping, et.al, 1994).

Seperti halnya upaya pengabaian penyakit, penolakan terhadap kenyataan menderita penyakit akan diikuti oleh ketidakpatuhan terhadap aturan pengobatan yang disarankan dokter yang merawat. Hal ini tentu saja memperburuk kondisi kesehatan penderita. Penolakan akan kenyataan menderita suatu penyakit juga memengaruhi peningkatan distres emosional yang menimbulkan kerusakan fungsi imunologik.

Jadi, mengapa kita tidak memilih gaya penyelesaian yang berpusat pada problem agar kita dapat mengatasi penyakit yang kita derita dengan hasil seoptimal mungkin demi pemulihan kesehatan fisik kita sendiri?

Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Sumber : www.kompas.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blog Guru Sosial Media