Kamis, 11 Juni 2009

Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang


Pendidikan, Investasi, Jangka Panjang

Executive Summary about Pendidikan by Drs. Nurkolis, MM

Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Sedikitnya terdapat tiga alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif.
Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Sementara itu lulusan pendidikan lanjutan hanya berpanghasilan rata-rata 19 juta dollar per tahun. Pada tahun yang sama struktur ini juga terjadi di Indonesia.

Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya.
Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Balik Pendidikan
Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja.
Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Ace Suryadi, Pendidikan, Investasi SDM dan Pembangunan: Isu, Teori dan Aplikasi. Pilihan investasi pendidikan juga harus mempertimbangkan tingkatan pendidikan.
Di Asia nilai balik sosial pendidikan dasar rata-rata sebesar 27 %, pendidikan menengah 15 %, dan pendidikan tinggi 13 %. Jelas sekali bahwa pendidikan dasar memberikan manfaat sosial yang paling besar diantara tingkat pendidikan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pendidikan yang lebih banyak dialokasikan pada pendidikan tinggi justru terjadi inefisiensi karena hanya menguntungkan individu dan kurang memberikan manfaat kepada masyarakat.
Reformasi alokasi biaya pendidikan ini penting dilakukan mengingat beberapa kajian yang menunjukkan bahwa mayoritas yang menikmati pendidikan di PTN adalah berasal dari masyarakat mampu. Maka model pembiayaan pendidikan selain didasarkan pada jenjang pendidikan (dasar vs tinggi) juga didasarkan pada kekuatan ekonomi siswa (miskin vs kaya). Artinya siswa di PTN yang berasal dari keluarga kaya harus dikenakan biaya pendidikan yang lebih mahal dari pada yang berasal dari keluarga miskin.
Model yang ditawarkan ini sesuai dengan kritetia equity dalam pembiayaan pendidikan seperti yang digariskan Unesco.
Itulah sebabnya Profesor Kinosita menyarankan bahwa yang diperlukan di Indonesia adalah pendidikan dasar dan bukan pendidikan yang canggih. Anggaran pendidikan nasional seharusnya diprioritaskan untuk mengentaskan pendidikan dasar 9 tahun dan bila perlu diperluas menjadi 12 tahun. Apabila semua anak usia pendidikan dasar sudah terlayani mendapatkan pendidikan tanpa dipungut biaya, barulah anggaran pendidikan dialokasikan untuk pendidikan tingkat selanjutnya.
Fungsi Non Ekonomi Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan. Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda.
Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demoktratis. Selain itu orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara lebih baik dibandingkan dengan yang kurang berpendidikan.
Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda.
Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang.
Inilah saatnya bagi negeri ini untuk merenungkan bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik untuk mendukung perkembangan ekonomi. Selain itu pendidikan juga sebagai alat pemersatu bangsa yang saat ini sedang diancam perpecahan. Melalui fungsi-fungsi pendidikan di atas yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan maka negeri ini dapat disatukan kembali. Dari paparan di atas tampak bahwa pendidikan adalah wahana yang amat penting dan strategis untuk perkembangan ekonomi dan integrasi bangsa. Singkatnya pendidikan adalah sebagai investasi jangka panjang yang harus menjadi pilihan utama.





Kata Kunci/ keyword Terkait dengan artikel ini : pendidikan, pendidikan nasional, makalah pendidikan, pendidikan agama, menteri pendidikan, menteri pendidikan nasional, pendidikan usia dini, pengertian pendidikan, tujuan pendidikan, pendidikan di indonesia, departemen pendidikan, manajemen pendidikan, pendidikan teknologi, teknologi pendidikan, masalah pendidikan, pidato tentang pendidikan, tingkat pendidikan, pendidikan lingkungan hidup, evaluasi pendidikan, pendidikan pancasila, pentingnya pendidikan, pendidikan nasional indonesia, menteri pendidikan 2010, website pendidikan, pendidikan ppt, departemen pendidikan nasional, komunikasi pendidikan, standar nasional pendidikan, standar pendidikan nasional, pendidikan seks, logo pendidikan, pendidikan internet, kata kata pendidikan, teknologi dan pendidikan, uu pendidikan, inovasi pendidikan, pendidikan luar sekolah, pendidikan menurut islam, kementerian pendidikan nasional, journal pendidikan, aliran pendidikan, pendidikan tik, pendidikan dan kebudayaan, undang-undang pendidikan, pendidikan hukum, dinas pendidikan nasional, internet dalam pendidikan, internet untuk pendidikan, pendidikan jepang, pembiayaan pendidikan, artikel pendidikan indonesia, pendidikan kimia, lembaga pendidikan islam, perkembangan pendidikan indonesia, kementrian pendidikan, info pendidikan, blog pendidikan, uu pendidikan nasional, tujuan pendidikan jasmani, dasar-dasar pendidikan, pendidikan dan pembangunan, pendidikan pesantren, www.pendidikan, manajemen pendidikan islam, reformasi pendidikan, pendidikan diindonesia, hadits tentang pendidikan, komputer dalam pendidikan, menteri pendidikan indonesia, mentri pendidikan, depdiknas.go.id, macam-macam pendidikan, dasar pendidikan nasional, pendidikan sebagai sistem, kementrian pendidikan nasional, penilaian dalam pendidikan, pendidikan kewirausahaan, nilai-nilai pendidikan, aliran-aliran pendidikan, biaya pendidikan itb, faktor-faktor pendidikan, uud pendidikan, pendidikan tradisional, pendidikan sebagai ilmu, nama menteri pendidikan, pendidikan masa kini, jenis-jenis pendidikan, departemen pendidikan indonesia, tokoh-tokoh pendidikan, artikel pendidikan jasmani, pemerataan pendidikan, pendidikan.com, unsur-unsur pendidikan, artikel pendidikan nasional, prinsip-prinsip pendidikan, prinsip pendidikan islam, contoh pantun pendidikan, teori-teori pendidikan, multimedia dalam pendidikan, artikel dunia pendidikan, lambang departemen pendidikan.

Selasa, 02 Juni 2009

PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pemahaman tentang kurikulum bermacam - macam, dari sangat sederhana seperti kurikulum merupakan mata pelajaran sampai ke kurikulum sebagai kegiatan sosial.


PENGERTIAN KURIKULUM

Pandangan klasik dalam penyusunan kurikulum yang masih dugunakan sampai saat ini adalah rasional Tyler ( 1949 )yang mengemukakan pertanyaan sebab akibat yang meliputi :
1. Tujuan pendidikan apa yang harus dicapai di sekolah.
2. Pengalaman pendidikan apakah yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut.
3. Bagaimana pengalaman pendidikan ini dapat di kelola secara efektif.
4. Bagaimana kita dapat menentukan bahwa tujuan pendidikan ini telah dicapai.

LANGKAH - LANGKAH PENGEMBANGAN KURIKULUM
1. Merumuskan Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan yang dirumuskan meliputi tujuan nasional, institusional dan tujuan pembelajaran. Tujuan nasional di Indonesia dapat dilihat pada Undang - Undang Sistem Pendidikan yang berlaku. Bedasarkan Tujuan pendidikan nasional, maka disusun tujuan institusional dan tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional. Tujuan ini kemudian menjadi kreteria untuk memilih isi, bahan pembelajaran, metode dan penilaian.
Tujuan mestinya mengandung pernyataan tentang apa yang harus dilakukan peserta didik, bukan apa yang harus dilakukan guru. Tujuan mengandung perubahan perilaku yang diinginkan dan materi yang digunakan untuk mencapai perubahan perilaku tersebut.
Tujuan dapat ditulis secara lebih umum, seperti mengembangkan minat peserta didik atau secara khusus membedakan perubahan fisik dan perubahan kimia.

2. Menyusun Pengalaman Belajar


Penglaman belajar perlu disusun untuk memberikan gagasan kepada para guru tentang kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan. Agar pengalaman ini dapat mencapai tujuan pendidikan pada berbagai tingkat, maka perlu disusun terlebih dahulu tentang kreteria penentuan pengalaman belajar. Berikut ini adalah kreteria seleksi pengalaman belajar yang perlu dicermati oleh para pengembang kurikulum.
a. Validitas, artinya dapat diterapkan di sekolah.
b. Kelayakan, yaitu layak dalam hal waktu, kemampuan guru, fasilitas sekolah dan pemenuhan terhadap harapan masyarakat.
c. Optimal dalam mengembangkan pengetahuan peserta didik.
d. Memberikan peluang untuk pengembangan berpikir rasional.
e. Memberikan peluang untuk menantang pengembangan seluruh potensi peserta didik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.
f. Terbuka terhadap hal baru dan menoleransi perbedaan kemampuan peserta didik.
g. Memotivasi belajar lebih lanjut.
h. Memenuhi kebutuhan peserta didik.
i. Memperluas minat peserta didik
j. Mengembangkan keutuhan pengembangan ranah kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, emosi dan spritual peserta didik.


Menentukan Materi Kurikulum

Pengalaman belajar selalu mengandung materi kurikulum. Materi kurikulum ditentukan dalam bahan kajian dan mata pelajaran. Di Indonesia bahan kajian dimuat dalam Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 37. Bahan kajian ada yang langsung menjadi mata pelajaran. Bila bahan kajian terlalu luas dapat dijabarkan ke dalam mata pelajaran tertentu dengan spesifikasi keilmuan yang lebih khusus, seperti kimia atau geografi atau pengetahuan sosial. Penentuan mata pelajaran bergantung pada jenjangdan jenis pendidikan.

Setiap mata pelajaran akan memuat sejumlah materi pelajaran. Untuk menentukan materi pelajaran perlu ditentukan kreteria seleksi materi, yaitu:
1. Menuju kemandirian peserta didik.
2. Mengandung makna yang mendalam.
3. Menyiratkan saran menuju kualitas kehidupan yang lebih baik.
4. Mengandung urutan atau sistematika berdasrkan kepentingan sebab akibat, makna tunggal, makna majemuk.
5. Autentik.
6. Menarik.
7. Bermanfaat bagi kehidupan peserta didik.
8. Dapat dipelajari.
9. Layak di pelajari.


Mengelola Pengalaman Belajar

Pengelolaan pengaaman belajar dapat dilakukan berdasarkan berbagai pertimbangan, yaitu pengembangan vertikal dan horizontal, serta kesinambungan.


Menilai Pembelajaran


Penilaian pembelajaran merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Pengumpulan informasi dilaksanakan dengan menerapkan asas - asas penilaian, keberlanjutan dan kesinambungtan, pengumpulan bukti - bukti autentik, akurat dan konsisten dalam menjamin akuntabilitas publik.


RINGKASAN

Dalam mengembangkan kurikulum hal - hal yang perlu diperhatikan adalah;
1. Merumuskan tjuan pendidikan
2. Menyusun pengalaman belajar.
3. Mengelola pengalaman belajar
4. Menilai pembelajaran

Tujuan pendidikan meliputi tujuan raional, institusional dan tujuan pembelajaran. Pengalaman pembelajaran disusun untuk memberikan gagasan kepada guru tentang rincian kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan. Pengalaman pembelajaran mengandung materi kurikulum. Kriteria seleksi materi yang dapat dipertimbangkan mencakup, kemnadirian peserta didik, memgandung makna yang mendalam, menuju kualitas kehidupan yang lebih baik, mengandung urutan atau sistematika berdasarkan kepentingan, autentik, menarik, bermanfaat, dapat dipelajari, dan layak dipelajari.
Ada lima model pendekatan pengembangan kurikulm, yaitu:
1. Model Tyler.
2. Model Taba.
3. Model Teknik Saintifik
4. Model nonteknik saintifik
5. Model pendekatan hasil belajar.


(by Ella Yulaelawati, Kurikulum Dan Pembelajaran )